Pertama Sepanjang Berdirinya Pura, Dadia Arya Belog Laksanakan Karya Agung Mamungkah

Krama Dadia Batur Babakan saat mundut Ida Bhatara Tirta dalam rangkaian upacara Karya Agung Mamungkah.
Bagikan

“Krama dadia Batur Babakan sukses menggelar upacara karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mapeselang dan Manawaratna yang merupakan karya terbesar sepanjang berdirinya pura ini”

MANGGIS- DiariBali
Dadia Batur Babakan pasemetonan Arya Belog telah sukses menggelar karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Mapaeselang dan Manawaratna yang diselenggarakan pada Saniscara Kliwon wuku Landep, Sabtu (6/9/2021) lalu.

Karya Agung ini dipuput oleh lima sulinggih Siwa-Budha. Sulinggih yang muput pada karya tersebut yaitu Ida Pedanda Gede Waan Datah (pedanda Buda dari grya Budakeling), Ida Pedanda Gede Wayan Sidemen (pedanda Budha dari Budakeling), Ida Pedanda Istri Singarsa (pedanda Budha dari Budakeling) , Pedanda Gede Piling Pinatih (pedanda Siwa dari grya Sidemen), dan Ida Pedanda Rai Keniten (pedanda Siwa dari grya Selat Duda).

Ditemui saat rangkaian upacara panyineban, Ketua Panitia Karya I Nengah Jimat, Kamis (23/9) memaparkan, bahwa karya Agung yang digelar saat ini merupakan karya terbesar sepanjang berdirinya pura Batur Babakan, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Hal ini dikuatkan oleh penuturan para tetua atau panglingsir pura yang belum pernah menyaksikan upacara sebesar seperti sekarang.

Tujuan digelar karya Agung ini tiada lain untuk memberikan energi posistif terhadap parhyangan pura Batur Babakan dan alam semesta beserta isinya sekaligus menetralisr kegelapan dari muka bumi ini, disamping juga memohon agar pandemi Covid-19 ini sirna.

“Karya ini dirancang sejak lima tahun lalu. Dan persiapan karya ini dimulai sejak lima bulan lalu untuk mempersiapkan upakara dan perlengkapannya bersama krama dadia dan pangayah dari lingkungan banjar adat Babakan,” ungkap Jimat.

Rentetan upacara, lanjut Jimat sebelum memasuki puncak acara diawali dengan upacara matur piuning, ngentegang daging, mlaspas dan rsi ghana, nuur bhatara tirta, melasti, tawur balik sumpah dan upacara mapepada.

Setelah rangkaian puncak acara, masih kata Jimat, ada rentetan upacara nganyarin, makebat daun, rsi bojana, dan terakhir upacara nglebar bhatara tirta sekaligus panyineban.

“Harapan kami setelah upacara ini digelar, semoga preti sentana Arya Belog mendapatkan kerahayuan atau keselamatan, dimudahkan dalam segala hal, dan dijauhkan dari mala bahaya,” harapnya sraya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut menyukseskan karya agung ini dari awal hingga selesai.

Dirinya menambahkan, sebagai Jayamana karya dalam uapacara ini yang memiki peran strategis dalam menuntun jalannya upacara yaitu Ida Wayan Jelantik Oyo dan Ida Pedanda Wayan Datah selaku Lingga Karya dari grya Budakeling.

Pura yang diempon oleh 285 kepala keluarga ini secara bergotong royong, bahu membahu dengan didukung rasa wirang dan semangat ngayah untuk menyukseskan karya ini dari awal hingga akhir.

“Dadia kami 40 persen berada di wewidangan desa Antiga-Gegelang. Sisanya ada di perantaun tersebar di sembilan kabupaten/kota di Bali. Namun, saat upacara ini digelar secara sadar krama kami datang untuk ngayah sebagai wujud bhakti terhadap lelangit atau leluhur Arya Belog untuk memhon keselamatan,” pungkas Jimat.

Dalam kesempatan yang sama panglingsir dadia Batur Babakan, I Nyoman Runa, menambahkan, terselenggaranya karya agung ini setelah rampungnya pembangunan palinggih, penyengker dan candi gelung di pura yang baru bebeapa tahun dipugar.

Pembangunan di pura Batur Babakan dimulai sejak tahun 2012 dan rampung pada tahun 2015. Setelah pembangunan selesai, baru merencanakan sebuah upakara tawur agung sejak lima tahun lalu.

“Terselenggaranya ucapara ini dengan urunan wajib sebesar 3 juta rupiah dan bisa dicicil sejak perencanaan dari awal. Dan diperkirakan upacara ini menghabiskan dana sekitar 1 miliat lebih,” paparnya.

Selain urunan, banyak krama dadia juga menghaturkan punia maupun perlengkapan upakara sehingga dapat meringankan panitia karya dalam pemenuhan kebutuhan upacara. “Banyak sekali aturan-aturan yang masuk ke panitia, baik berupa materi maupun non materi,” pungkas Runa. (Tim)