Kalasihan Menggelegar, Bleganjur Bala Abhirawa Guncang Jalur Melasti Angantelu-Gegelang

Sekaa Bleganjur Bala Abhirawa

Sekaa Bleganjur Bala Abhirawa

Manggis,diaribali.com —
Sekaa Bleganjur Bala Abhirawa mengiringi ribuan krama dalam prosesi Melasti Karya Agung di Pura Agung Desa Adat Angantelu-Gegelang, Minggu (26/4). Dentum gong bleganjur mengalun dinamis, seolah menyuntik semangat para pemundut jempana sepanjang perjalanan.
Irama yang dimainkan tidak sekadar menjadi pengiring, tetapi membangun energi kolektif. Setiap tabuhan terasa menyatu dengan langkah krama yang menempuh jalur panjang menuju pantai.
Komposer Bala Abhirawa, I Gede Windu Tianyar, mengungkapkan garapan yang dibawakan berjudul Kalasihan. Karya ini merupakan kompilasi dari sejumlah garapan sebelumnya yang dipadukan dengan sentuhan baru melalui instrumen penyacah, jublag, dan jegog.
“Penambahan instrumen ini memberi warna melodi yang lebih manis, tetapi tetap tajam dan tegas,” ujarnya.
Kalasihan terinspirasi dari kelesih atau trenggiling, hewan kecil yang dikenal kuat dan tangguh. Filosofi itu diterjemahkan ke dalam komposisi yang menonjolkan keteguhan, ketenangan, dan daya tahan.
Secara makna, Kalasihan juga dimaknai sebagai perpaduan “kala” (waktu) dan “asih” (kasih/harmoni). Konsep ini merujuk pada momentum yang tepat untuk mencapai keharmonisan dan memuliakan jati diri.
“Karya ini menjadi refleksi tentang waktu yang tepat untuk menata diri menuju keseimbangan batin,” kata Windu.
Garapan tersebut sekaligus menjadi ruang pelestarian seni. Bagi Bala Abhirawa, tampil dalam momen karya agung merupakan wujud syukur dan bhakti melalui swadarma sebagai penggiat seni.
Sekaa yang melibatkan sekitar 50 penabuh ini tampil kompak. Mereka menyatukan rasa dan ketulusan, menjadikan bleganjur sebagai ruang ekspresi sekaligus media penyatuan krama dari dua desa adat.
Windu, yang akrab disapa De Windu, menambahkan bahwa Bala Abhirawa rutin mengiringi berbagai kegiatan adat seperti ngaben, melasti, hingga lomba-lomba bleganjur untuk mengasah mental dan menjaga eksistensi sekaa.
“Kami kerap tampil dalam upacara desa maupun kegiatan sekaa, termasuk tabuh ngarap untuk ngaben massal dan ajang lomba,” ujarnya.
Menariknya, Kalasihan juga memadukan pola lama khas bleganjur Angantelu, yakni kempur besik atau bebonangan. Sentuhan tradisi ini berpadu dengan eksplorasi kekinian, menciptakan komposisi yang kaya dan berlapis.
Meski menempuh jalur sekitar 10 kilometer, semangat para penabuh tidak surut.  Irama bleganjur terus mengalun hingga prosesi melasti usai, menjaga ritme dan kekompakan barisan.
Bagi Bala Abhirawa, kekompakan adalah kunci. Setiap tabuhan menjadi wujud ngayah—persembahan tulus sebagai bentuk bhakti atas berkah ilmu dan taksu yang menghidupkan seni dalam kehidupan adat. (Art)