Ribuan Krama Padati Jalur Melasti Karya Pura Agung Angantelu-Gegelang
Iring-iringan Melasti Desa Angantelu-Gegelang.
Manggis,diaribali.com — Ribuan krama dari Desa Adat Angantelu dan Gegelang tumpah ruah mengikuti prosesi Melasti dalam rangka Karya Agung di Pura Agung, Minggu (26/4). Prosesi sakral ini bergerak menuju pantai di Banjar Pengalon sebagai rangkaian upacara besar karya agung.
Iring-iringan umat membentang hingga sekitar satu kilometer, melintasi jalur utama Karangasem–Denpasar. Arus lalu lintas sempat melambat, namun tetap terkendali seiring pengaturan oleh pecalang dan aparat setempat.
Suara gamelan beleganjur mengalun ritmis, mengiringi perjalanan suci sejauh kurang lebih lima kilometer. Nuansa khidmat terasa kental, menyatu dengan semangat kebersamaan krama yang berjalan beriringan membawa pratima dan sarana upacara.
Bendesa Adat Gegelang Jro Mangku I Ketut Arta mengatakan, Melasti merupakan rangkaian penting dalam Karya Agung yang puncaknya akan digelar pada Purnama Jyestha, Jumat (1/5/2026) mendatang. Seluruh tahapan upacara disiapkan secara gotong royong oleh krama dua desa adat.
“Melasti bertujuan menyucikan pratima, memohon tirta sanjiwani, sekaligus menyucikan seluruh sarana upacara dan diri umat agar karya berjalan sesuai harapan,” ujarnya.
Prosesi ini melibatkan dua desa adat, yakni Angantelu dan Gegelang. Berbagai pratima dari Tri Kahyangan turut diikutsertakan, termasuk Pura Puseh, Pura Dalem, hingga kahyangan lainnya yang memiliki keterkaitan spiritual dengan desa adat setempat.
Tidak hanya itu, sejumlah pratima dari Dang Kahyangan, Sad Kahyangan, hingga kahyangan swagina juga ikut diusung dalam prosesi. Kehadiran simbol-simbol suci ini menegaskan besarnya skala Karya Agung yang tengah digelar.
Setelah prosesi Melasti, rangkaian dilanjutkan dengan Nyakup Betara Tirta yang dilaksanakan di jaba Pura Agung. Dalam ritual ini, tirta yang dihimpun dari berbagai sumber, baik dari dalam maupun luar Bali, disatukan dan dipuput oleh sulinggih.
“Seluruh tirta disatukan sebagai simbol penyucian dan kesatuan spiritual, agar energi upacara tetap selaras,” kata Bendesa.
Rangkaian Karya Agung akan berlanjut dengan upacara Mapepada pada Senin (27/4), dilanjutkan Caru Balik Sumpah pada Selasa (28/4). Setelah tiga hari, baru memasuki puncak karya dijadwalkan berlangsung pada Jumat (1/5/2026) bertepatan dengan usaba Pura Agung.
Untuk melengkapi kesakralan upacara, sejumlah tari wali turut dipentaskan. Di antaranya tari Rejang Dewa, tari Topeng, hingga Rejang Selat Segara yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian yadnya.
Pementasan tari-tari sakral ini tidak sekadar hiburan, melainkan wujud persembahan tulus umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Gerak tari yang khidmat menjadi simbol bhakti sekaligus menjaga keseimbangan spiritual selama berlangsungnya Karya Agung.
Krama adat diharapkan terus menjaga kekompakan dan partisipasi aktif dalam setiap tahapan upacara. Dukungan bersama dinilai menjadi kunci kelancaran pelaksanaan Karya Agung.
“Kami memohon dukungan seluruh krama Angantelu dan Gegelang agar seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan labda karya,” pungkas Mangku Arta sapaan Jro Bendesa. (Art)