Rai Wirata Hadiri Puncak Karya di Pura Luhur Tengah Segara
I Made Rai Wirata (kiri) saat menyerahkan Punia kepada Panita Pura.
Mangupura,diaribali.com –
Pelestarian adat, agama, dan budaya Bali tidak hanya bertumpu pada ritual keagamaan, tetapi juga pada kebersamaan krama dalam menjaga warisan leluhur. Semangat itu tercermin dalam Puncak Karya Pemelaspasan, Pasupati, Pedagingan lan Padudusan di Pura Luhur Tengah Segara (Pura Ujung), Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kamis (5/11/2026).
Anggota DPRD Kabupaten Badung, I Made Rai Wirata, turut hadir dalam rangkaian upacara tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap pelaksanaan yadnya sekaligus penghormatan terhadap tradisi keagamaan yang terus dijaga masyarakat adat.
Puncak karya ini memiliki makna penting bagi krama. Upacara pemelaspasan menjadi bagian dari penyucian dan penyempurnaan bangunan suci, sedangkan pasupati merupakan prosesi sakral untuk memberikan kekuatan spiritual pada sarana atau benda yang disucikan.
Rangkaian upacara juga dilengkapi dengan pedagingan dan padudusan sebagai bagian dari penyelenggaraan yadnya. Seluruh prosesi tersebut mencerminkan keyakinan umat Hindu dalam membangun keharmonisan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Bagi masyarakat Bali, pelaksanaan karya bukan sekadar aktivitas ritual. Di dalamnya terkandung nilai gotong royong, ketulusan, kebersamaan, serta tanggung jawab kolektif untuk merawat keberlanjutan tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Rai Wirata menilai, kegiatan keagamaan dan adat memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya Bali. Karena itu, keberlangsungan tradisi di desa adat perlu mendapat dukungan bersama agar tidak tergerus perubahan zaman.
Dukungan terhadap kegiatan seperti ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara wakil rakyat dan masyarakat. Kehadiran di tengah krama tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan yadnya, tetapi juga mempererat ikatan sosial dalam kehidupan adat.
Melalui pelaksanaan karya di Pura Luhur Tengah Segara, nilai-nilai sradha, bhakti, dan kebersamaan kembali diteguhkan. Tradisi tetap hidup bukan semata karena diwariskan, melainkan karena masyarakat terus menjalankan, menjaga, dan memaknainya dalam kehidupan sehari-hari. (Kan)