Ciptakan Cairan Pembunuh Nyamuk Aedes Aegypti, Tim SMP Nasional Dulang Dua Medali Emas

Chintya Arditha bersama kepala SMP Nasional Denpasar, Ni Putu Supadmi
Bagikan

DENPASAR, diaribali.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Pulau Dewata sejak Januari hingga pertengahan April 2024 mencapai 4.177 kasus. Puluhan penderita di antaranya meninggal dunia.

Fenomena ini menarik tim riset SMP Nasional (Spenas) Denpasar, untuk berkontribusi mengendalikan perkembang-biakan nyamuk aedes aegypti, biang kerok DBD.

Tim riset yang terdiri dari Ni Putu Chintya Arditha Putri Ayu Widiantara, Haura Aulia, Gusti Ayu Putu Kenna Putri Nararya dan Kenya Aulia Azzahra De Ridder, menciptakan cairan berbahan dasar bunga gumitir dan sereh wangi.

Bahan dasar itu terlebih dahulu dikeringkan, diolah menjadi bubuk dan diformulasikan hingga berbentuk cairan atau liquid.

“Cara pemakaiannya, cairan dituangkan dalam alat seperti obat nyamuk elektrik. Kami baru menciptakan cairannya. Alatnya masih pakai produk obat nyamuk yang umum di pasaran,” kata Chintya Arditha, dikonfirmasi di Denpasar, Senin (3/6).

Hasil penelitian empat siswi Spenas Denpasar ini, telah melewati tahap final. Uji laboratorium menunjukkan, cairan penemuan mereka efektif membunuh nyamuk, terutama aedes aegypti.

Hasil riset ini pun dilombakan pada ajang Indonesia Internasional Invention Expo (IIIEX) 2024 kategori “Life Sains” versi offline yang diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan Politeknik Negeri Semarang, belum lama ini.

Chintya Arditha mengaku masih belum percaya jika timnya mampu membawa pulang dua medali emas mengingat kompetitor sangat ketat. Ada ratusan periset dari kalangan pelajar dan umum yang berasal dari 15 negara. Presentasi di hadapan dewan juri pun wajib menggunakan bahasa Inggris.

Awalnya Chintya Arditha dan tim tidak yakin bisa juara, apalagi meraih skor tertinggi di kategori tersebut. Sebab kompetitor mereka membawakan penelitian yang keren, misalnya mencegah kanker dan penyakit berat lainnya.

“Namun penelitian mereka belum tuntas. Kalau kami sudah A sampai Z. Ada bukti hasil laboratorium. Mungkin itu yang dilihat oleh juri,” ujarnya.

Tim yang dibimbing oleh Natalino Neparasi tersebut, sukses merebut medali emas plus special award dari Malaysia Young Scientists Organization. Jadi ada dua medali emas yang dibawa pulang ke Bali.

“Awalnya kami searching-searching tentang kandungan dalam gumitir dan sereh wangi. Ternyata aromanya bisa membunuh nyamuk dengan ramah lingkungan. Uap yang dihasilkan pun dijamin aman bila terhirup bayi dan ibu hamil,” pungkas siswi yang menempuh pendidikan sekolah dasar di Jakarta ini.

Kepala Spenas Denpasar Ni Putu Supadmi, juga tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Supadmi sampai menyusul anak didiknya ke Semarang untuk memberikan motivasi, meski ia mengaku ikut deg-degan.

“Memang biaya operasional mengikuti lomba ini cukup besar. Tapi demi memberi kesempatan bagi anak-anak, tidak masalah. Apalagi hasilnya medali emas,” kata Supadmi.

Ia pun mendorong agar liquid pembasmi nyamuk ciptaan peserta didiknya bisa diproduksi massal, tentunya setelah melewati proses perizinan, hak cipta dan ijin edar dari instansi terkait.

Supadmi berpandangan, hasil riset ini berpeluang besar dikembangkan, mengingat bahan baku berupa bunga gumitir dan sereh sangat melimpah di Bali.

Selain prestasi di IIIEX, Spenas Denpasar, lanjut Supadmi, juga berhasil meraih Juara Umum FASTTEKNO 2024 di ITB STIKOM Bali. “Semua prestasi ini kami persembahkan untuk Hari Pendidikan Nasional dan Hari Lahir Pancasila,” kata Supadmi.

Mengingat siswi-siswi berprestasi itu akan segera lulus, Supadmi fokus melakukan regenerasi untuk menjaga tradisi prestasi. rl