Pasca Bencana NTT, Monumen ‘Jokowi Menangis’ Rencana Dibangun

Saiful Saleh dan Danatus Dihe Sanga di Bandara Ngurah Rai sebelum terbang ke Flores Timur.
Bagikan

Denpasa, Diari Bali –
Pasca bencana banjir Adonara, NTT, warga Lamaholot Bali berencana membangun monumen ‘Jokowi Menangis, untuk mengingatkan masyarakat NTT akan bencana yang telah terjadi, dan mengenang sosok Presiden Jokowi yang rendah hati dan merakyat saat kunjungannya ke Pulau Adonara.

Ide menarik ini terbersit saat Presiden Jokowi sempat memeteskan air mata kesedihan dalam kunjungan melihat korban bencana banjir di NTT saat tiba di lokasi bencana paling parah di Desa Nele Lamadike, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Tak hanya itu, kepedulian warga Lamaholot Bali dengan nasib saudaranya di Pulau Adonara yang tertimpa bencana alam dilakukan dengan memfasilitasi anak yatim piatu tetap melanjutkan pendidikannya melalui orang tua asuh. Guna memuluskan rencana tersebut, Minggu (25/04/2021) pagi mengutus dua anggotanya, Donatus Dihe Sanga (Dodis) dan Saiful Saleh (Ipul) terjun langsung ke lokasi bencana alam di Pulau Adonara, Flores Timur.

Selain memastikan distribusi bantuan tepat sasaran dan verifikasi data anak yatim, Dodis dan Ipul akan berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Flores Timur dan Pemerintah Desa Nele Lamadike untuk berkolaborasi membangun monumen Presiden Jokowi sedang menangis ketika

Inisiator Posko Bali Peduli Adonara, Rahman Sabon Nama di Denpasar, menjelaskan, keinginan mendirikan monumen bencana Adonara ini mengemuka dalam rapat Lamaholot Bali pada 06 April 2021 lalu, menyikapi bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Pulau Adonara pada 04 April 2021.

“Melihat dahsyatnya bencana, awalnya kami bermaksud membangun monumen bencana. Nah tak diisangka pada 09 April Presiden Jokowi mendatangi Pulau Adonara, melihat langsung kondisi kerusakan akibat bencana dan bertemu para korban. Itulah yang makin menggerakan kami ingin membangun monumen Jokowi menangis di lokasi bencana paling parah yakni di Desa Nele Lamadike,” terang Rahman.

Menurut Rahman, pembangunan monumen ini tidak bermaksud mengabadikan duka para keluarga korban tetapi semata-mata untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa bencana banjir dan tanah longsor itu bisa terjadi kapan saja pada musim hujan sehingga kita lebih waspada.

Lalu, karena bajir dan tanah longsor itu sangat tergantung dengan kondisi lingkungan sekitar pemukiman masyarakat sehingga kita seharusnya lebih manusiawi memperlakukan alam sekitar kita. Monumen ini sekaligus mengenang seorang presiden, Bapak Jokowi yang rendah hati dan begitu peduli sehingga rela datang di Pulau Adonara.

“Jadi monumen ini ada nilai edukasi bagi kita yang sekarang dan bagi anak cucu kita kelak agar mereka bisa belajar dari monumen ini bahwa di sini pernah terjadi bencana alam yang maha dahsyat. Konsepnya, nanti akan ada sayembara desain monumen, lalu dikerjakan secara gotong royong tetapi finishingnya terutama pembuatan patung atau dioramanya kita akan libatkan tukang ahli dari Bali,” kata Rahman yang juga Humas ITB STIkOM Bali

Koordinator Posko Bali Peduli Adonara, Petrus Seli Tupen menambahkan jika ide pembangunan monumen ini diterima pihak terkait, maka Lamaholot Bali sebagai inisiator segera menggalang kerja sama dengan diaspora Flores Timur, khususnya warga Adonara yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri.

“Apalagi, Ikatan Keluarga Adonara di Batam juga punya ide yang sama dan saya kira group whats app Epu Orin Adonara juga pasti welcome. Asal kita mau dan ikhlas, soal dana pembangunannya bisa kita cari, kalau ada sharing anggaran dengan pemda lebih bagus lagi,” sebut pria asal Desa Lamawato, Adonara Timur.

Mengenai bantuan sosial yang dibawa Dodis dan Ipul, Ketua Lamaholot Bali Yosep Boleng merinci, terdata 76 koli barang terdiri dari pakaian layak pakai, kebutuhan perempuan dan anak serta kebutuhan mandi – cuci, sudah diberangkatkan dengan truk dan diperkirakan tiba di Larantuka pada Selasa, 27 April malam.

“Kami bekerja sama dengan Posko Pramuka di Larantuka dan alumni Lamaholot Bali yang sudah ada di Adonara untuk salurkan bantuan ke para korban di tujuh kecamatan di Pulau Adonara dan memverifikasi data anak yatim piatu di lapangan,” kata Yosep Boleng, asa Desa Tobi Tika, Witihama. (Red)