Kualitas Pendidikan Terancam Akibat PJJ

Dr. I Made Suarta, SH., MHum.
Bagikan

DENPASAR-DiariBali
Angka kasus harian Covid-19 di Provinsi Bali dalam tiga pekan belakangan memang masih tinggi mencapai rata-rata 1000 orang per-hari. Namun kabar baiknya, kasus baru diimbangi pasien sembuh yang jumlahnya rata-rata 900 orang per-hari. Persoalan semakin pun semakin kompleks. Tidak hanya urusan kesehatan dan ekonomi, tapi pendidikan.
Praktisi pendidikan dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., mengaku khawatir jika pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis jaringan berkepanjangan. Kata dia, sehebat-hebatnya PJJ, tidak bisa menandingi pembelajaran tatap muka (PTM) langsung.
Dalam proses belajar-mengajar, lanjut Suarta, bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan pengajaran pendidikan karakter dari guru ke peserta didik. Hal inilah yang hilang dalam PJJ yang telah berlangsung sejak pertengahan Maret 2020. Karenanya, ia mendesak pemerintah untuk segera membuka kembali PTM di satuan pendidikan, tentu dengan protokol kesehatan (prokes) ketat.
“Saya khawatir jika karakter anak-anak kita terdegradasi beberapa tahun kemudian yang merupakan imbas PJJ berkepanjangan. Menurut saya, pemerintah pertimbangkan lagi buka PTM, dengan prokes dan pengawasan yang sangat ketat dari aparat terkait. Tidak main-main, ini kita bicara pertaruhan kualitas pendidikan,” kata pria yang juga Rektor UPMI tersebut, Senin (9/8) di Denpasar.
Suarta meyakini, korona mau pun penyakit lain akan selalu menemani kehidupan manusia di bumi ini. Sehingga ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berdamai, hidup berdampingan dengan korona. Namun jangan pernah lengah sedikit pun terhadap prokes dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Dari pengamatannya di lapangan mau pun lewat media, masih ada oknum-oknum masyarakat yang mengabaikan prokes. “Tentu saya sangat menyayangkan hal itu,” jelasnya. Suarta yang terlibat langsung sebagai bagian dari Satgas Covid di Keluarahan Sesetan tidak segan menegur masyarakatnya yang tidak taat prokes.
Ternyata, lanjut dia, sebagian masyarakat beranggapan bahwa setelah divaksinasi dua tahap, mereka menganggap dirinya kebal dari serangan virus. Padahal itu salah besar. “Ayo semua disiplin prokes agar kita semua, khususnya di Bali segera bisa menjalani kehidupan normal,” ajak dia. TIM