Giri Prasta Apresiasi Karya Memukur Desa Carangsari

Bupati Giri Prasta
Bupati Giri Prasta saat menghadiri upacara Ngengget Don Bingin lan Ngajum Puspa di Br. Bedauh, Carangsari, Selasa (15/6/2021).

“Krama Banjar Bedauh, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung tetap “guyub”melaksanakan yadnya karya memukur ditengah masa pandemi”

MANGUPURA- DiariBali

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta memberikan apresiasi dan dukungan terhadap karya memukur yang dilaksanakan krama Banjar Bedauh, Desa Carangsari, Kecamatan Petang. Meskipun masa pandemi krama banjar tetap guyub melaksanakan yadnya sebagai sebuah tanggungjawab dan dharmaning leluhur dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Turut hadir dalam acara tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali I Nyoman Laka, anggota DPRD Badung Gusti Ayu Agung Inda Trimafo Yuda, Camat Petang I Wayan Darma serta tokoh masyarakat. 

“Kami atas nama Pemerintah kabupaten Badung merasa bangga melihat gotong-royong krama Br. Bedauh sehingga mampu melaksanakan karya memukur saat ini terlebih di tengah wabah covid-19. Kami ingatkan krama banjar tetap mematuhi protokol kesehatan,” jelas Bupati Giri Prasta saat menghadiri upacara Ngengget Don Bingin lan Ngajum Puspa sebagai rangkaian Karya Memukur di Br. Bedauh, Carangsari, Selasa (15/6/2021).

Lebih lanjut Giri Prasta mengharapkan kepada krama yang memiliki sawa agar betul-betul mengikuti jalannya karya mulai dari awal hingga ngelinggihang ring pemerajan (rong tiga) serta didasari atas hati yang tulus iklas. Diharapkan pula pelaksanaan karya sesuai sastra agama Hindu serta yang terpenting guyub ring pasemetonan.

“Dalam pelaksanaan karya atiwa tiwa, atma wedana lan sarwa prakerti ini, beberapa hal yang patut dipahami. Mulai dari murwa daksina dengan menggunakan sapi gading atau sapi selem batu, yang akan mengantarkan atma menuju surga,” jelasnya.

Masih Giri Prasta, dalam prosesi meajar-ajar ada yang disebut catur loka pala. Meajar-ajar ke Utara di Pura Beratan, Barat ke Batu Kau, Selatan ke Uluwatu, dan Timur ke Goa Lawah. Yang terakhir dan utama adalah saat ngelinggihang disebut dewa pretista bermakna menyatukan bumi dengan langit dengan konsep padu muka.

Sementara Kelian Adat Br. Bedauh I Made Suada selaku manggala karya menyampaikan karya nyekah ini sudah diawali paruman krama banjar yang dilaksanakan tiga bulan lalu.

Untuk tahun ini nyekah diikuti sebanyak 16 sawa/puspa, metatah/potong gigi 34 orang. Biaya upacara bersumber dari pemilik sawa dan dari para donatur.

Dudonan karya, dimulai sejak 2 Juni dengan upacara nyukat karang, 11 Juni ngingsah, 15 Juni ngangget don bingin, ngajum lan ngekeb, puncak karya 16 Juni.

“Prosesi lainnya akan dilanjutkan nyegara gunung dan melinggih di merajan soang-soang (sendiri). Astungkara semoga dapat berjalan dengan baik sesuai rencana dan harapan,” jelasnya mengakhiri. (Get)