Teater Kalangan Kupas Sejarah Jalan Veteran, Denpasar

TEATER-Pergelaran yang disajikan oleh Teater Kalangan di Gedung Ksirarnawa, Art Center Taman Budaya Denpasar, Selasa (2/11).
Bagikan


DENPASAR-DiariBali

Adilango (pergelaran) teater “Hero on The Way #1 BEKAS” dalam ajang Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III menawarkan sebuah pementasan yang atraktif dan komunikatif. Pergelaran yang disajikan oleh Teater Kalangan di Gedung Ksirarnawa, Art Center Taman Budaya Denpasar, Selasa (2/11) itu tak hanya menyajikan hiburan segar, tetapi juga mengajak penonton terlibat dalam pertunjukan teater itu. Respon para penonton menjadikan pergelaran teater ini lebih hidup, di samping melibatkan pemain yang berasal dari para pemuda dan pemudi di Kota Denpasar.

Sutradara yang juga penulis naskah, Wayan Sumahardika mengatakan, pementaran Teater Kalangan kali ini ingin memberikan suasana berbeda, sehingga mengangkat judul “Hero on The Way #1 BEKAS”. Judul yang diangkat ini, semacam program riset pengembangan artistic Teater Kalangan dengan menelusuri kenyataan nama-nama jalan yang ada di Kota Denpasar. “Kami ingin membaca kota dan warga yang ada di Bali untuk bergerak dalam konteks dinamika, perubahan sosial yang terjadi dan lainnya,” katanya.

Karena itu, Suma membagi garapan ini menjadi beberapa bagian. Pada bagian awal pergelaran mengkaji tentang Jalan Veteran di Denpasar, sebuah jalan yang cukup bersejarah yang ada konteknya dengan Kolonial Belanda, ada Perang Puptutan Badung dan pariwisata yang ditandai dengan adanya Hotel Inna Bali. lalu, sekarang juga ada kontek cagar budaya disana. “Tetapi, seberapa banyak orang yang melihat kenyataan-kenyatan yang ada di Jalan Veteran itu? Nah, itulah yang diungkapkan oleh Teater Kalangan,” paparnya.

Dalam kontek pertunjukan, teater yang didukung anak-anak muda ini tidak hanya mempertunjukan teater-teater sebagai sebuah show saja, tetapi juga ada kontek bagaimana para pemain bisa membangun dialog dengan penonton. Karena itu, orang yang melihat dan menyaksikan pementasan ini maka akan lebih ngeh melihat Jalan Veteran. Setelah menonton pertunjukan ini, orang yang melewati Jalan Veteran akan menjadi lebih bertanya-tanya. Secara kenyataan, apasih yang hadir disini. Jadi, intinya kami membuat masyarakat lebih ngeh saja,” ucapnya serius.

Kisah-kisah yang ada di Jalan Veteran itu kemudian dirajut lewat pragmen-pragmen dengan biografi dari pemain atau actor, sehingga ada proses perajutan teks-teks di luar tubuh aktor dengan Jalan Veteran sebagai situs penciptaannya. Karena dalam pementasan menampilkan layar proyektor, memasang polis line hingga menggunakan kursi untuk permainan level. “Festival ini sangat menarik untuk dilanjutkan secara terus-menerus. Saya sebagai seniman mengapresiasi apa yang dialkukan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dengan membawa ruang-ruang seni kontemporer di Bali ini semakin berkembang,” ucapnya berharap.

Jangan pada serimonial saja, kemudian tidak melakukam pembacaan, tidak melakukan dialog kenyataan sosial masyarakat. Padahal seni kontemporer disitu ketertarikannya. “Bukan seperti seni-seni yang lainnya pergelaran begitu selesai, mestinya ada dialektika pada kenyataan. . Segoga ini terus dijalankan dan terus berkembang. Kalau menonton kita bisa mengaca kembali kontek kesenian konteporer di Bali,” kata dia. TUM