Taksu Agung Hyang Ratu Niang Sakti

Pelinggih Ratu Niang dan Pura Taman Beji
Pelinggih Ratu Niang Sakti

Kabulkan Segala Permohonan, Jodoh, Keturunan, Pekerjaan, Obat Jerawat

“Ketika melintas di sekitar jalan Kumbakarna atau Pasar Wangaya Denpasar tepatnya dipengujung jembatan sisi barat, banyak orang terlihat sembahyang dan menghaturkan sesajen. Pelinggih Ida Ratu Niang Sakti, begitu orang-orang menyebutnya yang dipercaya dapat mengabulkan segala permohonan baik jodoh, kesembuhan, keturunan, dilancarkan dalam segala pekerjaan maupun obat jerawat”.

DENPASAR, DiariBali

Bali merupakan pulau yang kaya akan budaya, tradisi, adat dan keunikan yang memiliki kekuatan yang dikenal istilah taksu, pulau seribu pura julukan yang didengungkan orang- orang. Tidak hanya warga Denpasar dan pedagang pasar Wangaya yang rajin bersembahyang atau sekedar menghaturkan rarapan, kabar tentang palinggih berwujud nenek tua yang sedang bersila dengan sikap tangan amustikarana telah tersebar ke pelosok penjuru Nusantara.

Pemangku pemucuk di palinggih Ida Ratu Niang Sakti Anak Agung Ngurah Gede Agung (72) menceritakan berdirinya pelinggih Ratu Niang bermula pada tahun 1997 pihak puri akan melaksanakan upakara memukur yang sebelumnya masih hamparan tanah kosong  yang tersekat tukad Badung .

Turah Belanda sapaan akrabnya bertugas untuk mengukur tempat digelarnya upakara seperti tempat surya, mapiosan (berpuja), tempat gambelan, dan tempat sarana pendukung  upakara yang lain dari banyaknya pengayah dengan menghadirkan Ida Peranda Bajing dari Geria Kesiman melihat sosok wanita tua sedang melancaran (jalan-jalan) di lokasi itu. “Icen Ida rarapan mangda ten ngarudek karyan Turah, mangda Ida mawali,” ujar Ida Peranda pada Turah.

Dari kesaksian tersebut, Turah bercerita pada kakak pertama AA Ngurah Oka Juniantara perihal kejadian tersebut. Tercetuslah ide untuk mendirikan palinggih Ida Ratu Niang Sakti pada 18 Oktober 1998 yang diempon oleh keluarga besar Puri Jero Kuta.

Pura Taman Beji

Pelinggih pun benar didirikan tak menyadari siapa saja yang datang seiring berjalannya waktu ada saja sembahyang. selain itu, banyak rombongan bus datang untuk melaksanakan sembahyang.

“Kepercayaan masyarakat mulai meningkat ketika  pemedek  yang memohon jodoh, dapat jodoh, daganganya sepi menjadi laris, yang memohon  keturunan dikabulkan, masalah keluarga/ kantor terkabulkan, dan bertujuan apapun dengan doa dalam hati tulus hanya sang memohon merasakan. Terbukti, terlihat pemedek untuk datang kembali nangkil  mengucapkan terima kasihnya” papar kakek yang memiliki empat cucu tersebut.

Lebih jauh Turah menuturkan, yang nangkil ke pelinggih Ratu Niang tidak hanya umat hindu melainkan dari umat lain seperti Kristen, Muslim, Budha yang keberadaannya datang dari tanah jawa ataupun yang sudah menetap di Bali.

“Kami tidak membatasi semua umat untuk sembahyang disini, kami persilahkan sesuai kepercayaan dan keyakinan masing- masing,” pintanya.

Vibrasi kekuatan taksu yang terpancar menjadi daya tarik bagi umat, terasa terpanggil untuk datang sembahyang. Banyak golongan dari beberapa daerah datang melaksanakan doa sesuai keyakinannya baik dari polisi, guru, pemuda, pelajar, tentara, pegawai bank, para normal, pedagang untuk memohon restu disana.

Menariknya, Orang dari medan yang menganut agama muslim turut berdana punia dengan menghaturkan tiga patung , 1 pasang patung Cikrabala dan patung Ganesa. Selain itu, orang Cina yang tidak dikenalnya ikut sekedar beryadnya dalam pembuatan bale sebagai bentuk ucapan terima kasihnya yang merasa pernah diselamatkan. Keunikannya lagi banyak pemuda- pemudi datang ngelungsur (minta) obat jerawat.

“Banyak pemuda-pemudi, pegawai bank datang ngelungsur obat jerawat atau untuk mencerahkan vibrasi wajah, cukup dengan air suci yang diberikan,” jelasnya.

Lanjut Turah, selain pelinggih Ratu Niang berdiri pula pelinggih Dewi Kwan Im, pelinggih Ratu Segara Kidul, Ratu Gede, dan Lingga Yoni sebagai pendamping dan pelengkap pelinggih tersebut.

Dibawah pelinggih Ratu Niang terdapat pelinggih padma berupa  Taman Beji yang sangat erat hubungannya dengan pelinggih Ratu Niang yang menjadi bisama beliau “Cening pelinggih nira ring beten tirtane luih ring ida pedanda di geria” kata Turah bisama dari Ratu Niang.

Pelinggih ini disucikan sebagai tempat melukat dan memohon obat khusus bagi orang sakit melalui perantara Turah. Meskipun tidak mengucap mantra panjang seperti pemangku pada umumnya, namun Turah selalu dimudahkan jika ingin mengobati orang sakit. Apapun yang diambil di areal pura baik tanah, lumpur, lumut, lekesan mampu memberikan kekuatan dan kesembuhan yang sangat dipercaya pemedek mujarab sebagai obat.

“Saya bukan dukun, mungkin karena kehendak Ratu Niang, apapun yang saya beri ke pemedek terbukti manjur obati penyakit bagi para pemwdek. Daun pun saya kasi, bisa membuat orang itu sembuh,” ucapnya.

Aci piodalan dilaksanakan pada Purnama Sadamala ( bulan 12 kalender Bali) dan pelinggih di Pura Taman Beji dilaksanakan pada Buda Kliwon Ugu. Dalam situasi pandemi saat ini, pemedek masih banyak yang nangkil untuk sembahyang ataupun sekedar menghaturkan rarapan dengan tetap memperhatikan prokes. (Get)