PHBS Jadi Kunci Keberlangsungan Hidup Era New Normal

PHBS-Tim pengabdi Polkesden memasang tempat cuci tangan di pura yang tersebar di Desa Pakraman Bugbugan, Desa Senganan, Penebel, Tabanan.
Bagikan

TABANAN-DiariBali


Sebagai institusi perguruan tinggi di bidang kesehatan, Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar (Polkesden) memiliki tugas pengabdian kepada masyarakat (Pengabmas) yang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kelompok dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Polkesden, yakni I Wayan Suarta Asmara, BE., SST., M.Si., selaku ketua didampinggi anggota Anysiah Elly Yuliantini, SKM., M.Kes., terpanggil melakukan pengabmas guna menekan laju penularan Covid-19, serta kebiasaan baru dalam melangsungkan kehidupan di era adaptasi baru (new normal).
Tim melaksanakan pengabdiadian di Desa Pakraman Bugbugan, Desa Senganan, Kacamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Metode pengabmas dilakukan dengan penyuluhan dan demontrasi tentang mencuci tangan pakai sabun untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta tetap mengedepankan protokol kesehatan (prokes) sesuai permenkes N0.HK.01.07/MENKES/382/2020 tentang Protokol kesehatana di Tempat dan Fasilitas Umum dalam rangka pencegahan dan pengendalian Covid-19. Sesuai Peraturan Gubernur Bali N0. 46 tahun 2020 tentang protocol kesehatan


Menurut Suarta Asmara, PHBS menjagi kunci keberlangsungan hidup masyarakat di era adaptasi kebiasaan baru. Oleh sebab itu, pengabdian menyasar tokoh-tokoh masyarakat, seperti bendesa, prajuru, pemangku, kader kesehatan dan tokoh lainnya di Desa Pakraman Bugbugan, Desa Senganan. Tokoh masyarakat ini, dengan pengaruh yang dimiliki diharapkan mampu menjado contoh penerapan PHBS di lingkungan desa setempat.


Tim yang memulai pengabdian dari 30 Agustus hingga 17 September 2021 ini juga mencatat perkembangan kasus Covid-19 di Kabupaten Tabanan. Angkanya relatif tinggi meski pun akhirnya melandai. Namun pihaknya tetap melakukan upaya antisipasi, agar warga Senganan yang terdiri dari 6. 897 jiwa ini meningkat derajat kesehatannya. “Caranya tidak lain dengan menerapkan PHBS yang ditambah prokes ketat,” tambah Suarta Asmara.
Pura-pura di wilayah Desa Bugbugan, Senganan juga menjadi perhatian serius tim pengabdi. Sebab, aktivitas adat keagamaan diyakini menjadi salah satu klaster penularan Covid-19. Desa Pakraman Bubugan mengempon atau memiliki 6 buah pura besar termasuk pura tri kahyangan. Karenanya, tim pengabdi membangun tempat cuci tangan dan menyerahkan sejumlah tong sampah di pura dan fasilitas umum lainnya.


Dan, yang perlu digasirbawahi, Senganan berada di kawasan Daerah Tujuan Wisata Jatiluwih. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan N0. 3 tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masayarakat yang berisi 5 (lima) kegiatan salah satunya Cuci tangan pakai sabun dan Pergug Provinsi Bali N0. 46 tahun 2020 tentang protokol kesehatan.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menyadarkan masyarakat dalam memperbaiki perilaku hidup bersih dan sehat. Salah satu perilaku hidup bersih dan sehat adalah membiasakan diri melakukan CTPS (cuci tangan pakai sabun), pengelolaan sampah kegiatan upacara. Oleh karena masih banyak ditemukan masyarakat di Desa pakraman Bugbugan desa Senganan, membuang sampah di selokan, lahan kosong sebagai tempat pembuangan akhir sampah.
Dari pengabmas tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa, penyuluhan dan demontrasi tata cara cuci tangan pakai sabun masyarakat adat Pekraman Bugbugan Senganan dapat berjalan dengan baik dengan pemahaman materi secara baik sebesar 85 % dari jumlah peserta. Pembangunan lima buah tempat cuci tangan dan pemberian tong sampah tempat-tempat umum seperti di pura dan balai banjar adat Bugbugan desa Senganan.


“Kami meminta tempat cuci tangan yang dibangun semoga dipelihara dengan baik, sehinga umur sarana dapat digunakan lebih lama dan jangan lupa masayarakat desa adat pakaraman Bugbugan memperhatikan protokol kesehatan yaitu 3 M: memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan menjaga jarak,” pungkasnya. TUM