Ekonomi Bali Melaju 5,86 Persen, Tangguh tapi Masih Bertumpu Pariwisata

IMG-20260206-WA0204

Denpasar, diaribali.com
Ekonomi Bali kembali mencatatkan kinerja impresif. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali melaporkan, pertumbuhan ekonomi Pulau Dewata pada Triwulan IV 2025 mencapai 5,86 persen (year on year), melampaui pertumbuhan nasional yang berada di level 5,39 persen. Sepanjang 2025, ekonomi Bali tumbuh 5,82 persen, juga lebih tinggi dari capaian nasional 5,11 persen.
Angka tersebut menempatkan Bali sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Namun, di balik laju pertumbuhan itu, struktur ekonomi Bali masih menunjukkan ketergantungan kuat pada sektor pariwisata, sementara sektor-sektor produktif lain bergerak lebih lambat.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,85 persen, ditopang lonjakan belanja transportasi, rekreasi, budaya, serta akomodasi dan hotel seiring meningkatnya aktivitas pariwisata. Konsumsi pemerintah bahkan melonjak 10,73 persen, didorong belanja pegawai dan bantuan sosial dari APBN maupun APBD. Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,47 persen, terutama pada sektor bangunan, sejalan dengan masuknya investasi PMA dan PMDN.
Ekspor luar negeri juga mencatat pertumbuhan 5,43 persen, dengan kontribusi utama berasal dari ekspor jasa, khususnya pariwisata, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik.
Dari sisi lapangan usaha, sektor Akomodasi dan Makan Minum kembali menjadi motor utama dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 8,90 persen. Perdagangan tumbuh 5,97 persen, dipicu meningkatnya aktivitas wisata dan perdagangan bahan bangunan. Transportasi dan pergudangan tumbuh 5,53 persen, sejalan dengan padatnya arus penumpang di Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Sebaliknya, sektor-sektor penyangga ekonomi jangka panjang masih tumbuh terbatas. Konstruksi hanya tumbuh 2,84 persen, sementara pertanian mencatat pertumbuhan paling rendah, 0,25 persen, meski ditopang subsektor perkebunan dan peternakan. Kondisi ini menegaskan tantangan lama ekonomi Bali: pertumbuhan tinggi, tetapi belum sepenuhnya merata dan inklusif.
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Bali tetap tumbuh kuat pada Triwulan I 2026, didorong momentum Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Imlek, Nyepi, serta Ramadan–Idulfitri. Optimisme konsumen, kelanjutan investasi, peningkatan penerbangan internasional, agenda MICE, dan penambahan akomodasi pariwisata baru diproyeksikan menjaga laju ekonomi.
Meski demikian, Bank Indonesia mengingatkan pentingnya transformasi ekonomi agar Bali tidak terus bergantung pada pariwisata. Melalui strategi Panca Kerthi, BI mendorong penguatan sektor unggulan nonpariwisata seperti pertanian dan ekonomi kreatif, percepatan pariwisata berkualitas, pengendalian inflasi dan daya beli, perluasan akses pembiayaan inklusif khususnya bagi UMKM, serta akselerasi digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS.
“Pertumbuhan tinggi perlu diimbangi dengan kualitas dan keberlanjutan,” demikian pesan yang mengemuka. Tantangannya kini bukan sekadar menjaga angka pertumbuhan, tetapi memastikan ekonomi Bali lebih seimbang, inklusif, dan tahan terhadap guncangan global. (Art)