Lonjakan SPKLU 9 Kali Lipat, Bali Hadapi Ujian Infrastruktur

Kendaraan listrik yang sedang charging di SPKLU Hayam Wuruk.

Kendaraan listrik yang sedang charging di SPKLU Hayam Wuruk.

Denpasar,diaribali.com —
Penggunaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Bali melonjak tajam selama libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri, 13 Maret hingga 5 April 2026. Data PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali mencatat 13.531 transaksi pengisian dengan total konsumsi energi 318.890,33 kWh.
Angka ini melonjak sekitar 899 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya mencatat 1.355 transaksi. Lonjakan hampir sembilan kali lipat ini menjadi sinyal kuat meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Pulau Dewata, terutama saat mobilitas wisata memuncak.
General Manager PLN UID Bali, Eric Rossi Priyo Nugroho, menyebut tren ini sebagai indikator tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik.
“Lonjakan transaksi SPKLU selama periode libur keagamaan ini menunjukkan kendaraan listrik semakin menjadi pilihan. Kami memastikan ketersediaan SPKLU di titik strategis agar mobilitas tetap nyaman,” ujarnya Rabu (8/4).
Namun, di balik angka impresif tersebut, muncul pertanyaan krusial: apakah lonjakan ini mencerminkan perubahan struktural, atau sekadar efek musiman akibat lonjakan wisatawan?
PLN sendiri mengakui tren kenaikan sudah terlihat sejak tahun sebelumnya. Pada periode libur 2025, transaksi SPKLU di Bali juga meningkat 285 persen. Artinya, pertumbuhan memang terjadi, tetapi lonjakan ekstrem tahun ini beririsan kuat dengan momentum libur panjang.
Di lapangan, kebutuhan infrastruktur yang merata masih menjadi pekerjaan rumah. Sejumlah pengguna mengapresiasi fasilitas yang ada, namun menuntut perluasan yang lebih cepat.
Januar, pengemudi taksi online, menilai fasilitas SPKLU di kawasan Hayam Wuruk cukup representatif.
“Fasilitasnya lengkap, ada toilet dan kafe. Tapi harus diperbanyak, terutama di lokasi wisata,” ujarnya.
PLN menyatakan terus memperluas jaringan SPKLU ke jalur wisata, pusat kota, hingga rest area. Langkah ini penting untuk mengurangi kekhawatiran pengguna terhadap keterbatasan daya jelajah kendaraan listrik.
Meski demikian, percepatan infrastruktur harus diiringi dengan perencanaan matang. Tanpa distribusi yang merata dan berbasis kebutuhan riil, lonjakan penggunaan berisiko menciptakan titik-titik kepadatan baru—ironis bagi sistem transportasi yang diklaim lebih efisien dan berkelanjutan.
Di tengah dorongan transisi energi bersih, Bali kini menghadapi ujian berikutnya: memastikan pertumbuhan kendaraan listrik tidak hanya tinggi di angka, tetapi juga kokoh dalam kesiapan infrastruktur dan tata kelola. (db)