Warung Nang Entonk Tawarkan Lawar Spesial, Satu Ton Gurita Ludes

Nasi Lawar Nang Etonk

DENPASAR-DiariBali
Kreativitas Putu Agus Adi Putra dalam mengolah kuliner khas Bali layak diacungi jempol. Berkat ketekunannya, khasanah makan khas Bali menjadi semakin kaya. Misalnya, lawar.
Lawar adalah makanan khas Pulau Dewata yang paling populer. Lazimnya, lawar menggunakan daging bebek, babi atau ayam. Namun, di tangan pria pemilik sapaan karib Nang Entonk ini, lahirlah lawar gurita. Sebuah referensi baru tentunya bagi semeton pencinta kuliner Bali.
Tak hanya lawar. Nang Entonk juga berinovasi menciptakan serapah gurita dengan santan kalasan nan gurih, gurita suna cekuh, sate gurita, olahan udang dan kepiting. Semua bisa dinikmati di Warung Nang Entonk, Jalan Pulau Batam II, Denpasar Barat.
Untuk satu porsi makanan olahan gurita lengkap dengan nasi putih, pria bertato ini membanderol Rp 20.000, kecuali untuk menu kepiting ukuran cukup besar dibanderol Rp50.000. Bagi yang malas keluar rumah, produk Nang Entonk bisa dipesan lewat aplikasi gofood.
Nang Entong menjelaskan, warung yang memiliki parkir cukup memadai bagi kendaraan roda dua dan empat ini dirintis tahun 2013 silam. Kegemarannya memasak lahir dari mengamati sang ayah yang berjualan lawar.
Sebelum pandemi Covid-19 menerjang, Nang Entonk mengaku mampu menghabiskan satu ton gurita dalam sebulan. Bahan baku ia pesan dari Jawa. Setelah pandemic Covid-19, omzetnya terjun bebas dengan kisaran rata-rata 100 kg per minggu atau 400 kg per bulan.
“Selain omzet, saya terkendala kesulitan bahan baku setiap hari raya Idul Fitri. Solusinya saya pakai cumi-cumi,” kata Nang Entonk kepada DiariBali.com, Rabu (19/5/2021).

Mengolah gurita, kata dia, relatif sama dengan mengeloah daging pada umumnya. Hanya diperlukan kecermatan saat proses perebusan. Jika kelamaan, daging menjadi alot. Ketelitian membagi daging untuk berbagai macam olahan juga tak kalah penting.
Dia punya alasan yang kuat memilih makanan berbahan daging laut karena bisa dkonsumsi semua kalangan. “Saya membuat menu nasional,” katanya. Terbukti, para pembeli yang datang tidak hanya krama Bali, tapi wisatawan domestik yang sedang berlibur ke Bali.
Meskipun dalam dirinya tertancap jiwa bisnis yang berorientasi pada keuntungan, tetapi jijwa sosial seorang Nang Entonk tidak usah diragukan lagi. Beberapa kali, selama pandemi, ia menginisiasi program “Razia Perut Lapar” di ruas-ruas jalan Kota Denpasar.
Dia dan sejumlah relawan membagikan sebungkus nasi kepada setiap pengendara yang lewat secara gratis. “Ini adalah wujud kepedulian kami terhadap saudara-saudara kita yang kesulitan ekonomi akibat korona,” pungkas dia.
LIN