Mahasiswa KKN Dampingi Pembangunan Pura Dadia Berati, Perkuat Warisan Leluhur Berbasis Arsitektur Tradisional Bali
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Nasional 2026 bersama dosen Universitas Warmadewa.
Karangasem,diaribali.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Nasional 2026 bersama dosen Universitas Warmadewa mendampingi pembangunan Pura Dadia Berati di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat persaudaraan keluarga besar Ki Berati sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Bali berbasis arsitektur tradisional dan kearifan lokal.
Program tersebut dipimpin oleh dosen I Wayan Parwata, I Nyoman Nuri Arthana, dan Made Mas Surya Wiguna bersama mahasiswa I Putu Desta Adi Sucipta, I Putu Yuda Adrian Maikayana, Ni Putu Nadya Putri Anjani, Ni Kadek Ayu Junita Permatasari, Ni Made Saka Pratiwi, serta mahasiswa KKN-PPM Nasional 2026 yang bertugas di Desa Sibetan.
Bagi masyarakat Bali, Pura Dadia bukan hanya tempat persembahyangan, melainkan pusat identitas genealogis keluarga, ruang pewarisan nilai budaya, serta simbol persatuan lintas generasi. Keberadaannya menjadi wujud keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam sebagaimana diajarkan dalam filosofi Tri Hita Karana.
Pendampingan dilakukan setelah keluarga besar keturunan Ki Berati bersepakat membangun Pura Dadia Berati di atas lahan milik sendiri seluas sekitar enam are. Keputusan tersebut lahir dari perjalanan sejarah panjang keluarga yang ingin memiliki pusat pemujaan leluhur sekaligus ruang pemersatu generasi penerus.
Selama ini keluarga Ki Berati dikenal aktif menjalankan kewajiban adat dan keagamaan di lingkungan Pura Dadia Batur. Mereka turut berkontribusi dalam berbagai karya besar, pemugaran pura, hingga kegiatan adat yang berlangsung secara turun-temurun sebagai bentuk pengabdian kepada leluhur.
Berbagai dinamika sosial yang terjadi kemudian mendorong keluarga membangun pura secara mandiri. Langkah tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap persaudaraan sekaligus ikhtiar menjaga keharmonisan tanpa memperpanjang persoalan yang pernah dihadapi.
Meski telah memiliki lahan, pembangunan Pura Dadia Berati masih menghadapi sejumlah tantangan. Selain keterbatasan dalam penyusunan konsep dan desain kawasan, keluarga juga membutuhkan panduan mengenai tata ruang kawasan suci, arsitektur tradisional Bali, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim dosen dan mahasiswa memberikan pendampingan mulai dari penyusunan konsep pembangunan, penyusunan masterplan kawasan, hingga sosialisasi mengenai tata ruang pura, pelestarian budaya, dan penerapan prinsip Tri Hita Karana dalam pembangunan kawasan suci.
Pendampingan juga mendorong keterlibatan aktif seluruh anggota keluarga dalam setiap tahapan pembangunan. Pendekatan partisipatif dinilai penting agar Pura Dadia Berati tidak hanya berdiri sebagai bangunan fisik, tetapi juga menjadi ruang bersama yang memperkuat solidaritas, gotong royong, dan pewarisan nilai-nilai leluhur.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, mahasiswa KKN memperoleh kesempatan mengimplementasikan ilmu yang dipelajari di kampus secara langsung. Kehadiran mereka menjadi jembatan antara kajian akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat dalam menjaga warisan budaya dan identitas keluarga.
Pembangunan Pura Dadia Berati diharapkan menjadi simbol persatuan keluarga besar Ki Berati sekaligus contoh pelestarian budaya Bali yang berkelanjutan. Sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan kawasan suci yang tidak hanya memenuhi kaidah arsitektur tradisional Bali, tetapi juga menjadi ruang spiritual dan budaya yang tetap hidup bagi generasi mendatang. (Art)