Lawar Kuwir Wayan Jinah, Omset Rp 90 Juta Sebulan

Lawar Kuwir Wayan Jinah

“Lawar Kuwir Wayan Jinah, Omset Rp 90 Juta Sebulan”Berbicara kuliner khas Bali tak melulu soal olahan babi. Tapi ada juga berbahan ayam, ikan laut dan kuwir. Kuwir atau entog adalah jenis unggas mirip bebek sehingga warung lawar kuwir Wayan Jinah yang terletak di Jalan Tukad Musi 16, Renon, Denpasar, bisa menjadi alternatif kuniler halal bagi sahabat Diari yang tidak mengonsumsi daging babi”.

DENPASAR – DiariBali

Kejelian melihat peluang akan menjadi jembatan kesuksesan dalam menjalani dunia wirausaha. Apalagi dalam dunia kuliner, banyaknya pesaing, adu cita rasa, dan harga juga mempengaruhi jalan atau tidaknya sebuah usaha kuliner.

Seperti yang dialami Wayan Jinah (46), adalah seorang yang bisa dikatakan sukses dalam menahkodai usahnya mengolah cita rasa warisan nenek moyang berupa lawar kuwir yang menjadi incaran pecinta kuliner Bali.

Kejelian bapak satu anak ini melihat peluang di sudut-sudut kota Denpasar ini, menghantarkan usahanya laris manis ditengah ketatnya persaingan warung makan dengan keunggulan masing-masing.

Kejelian dan kerja keras Wayan Jinah patut diancungi jempol, pasalnya kesuksesan yang diraih saat ini bukan diraih dengan waktu yang singkat dan mudah. Namun, butuh waktu belasan tahun ia lakoni secara konsisten sehingga berada di posisi seperti sekarang ini yang tergolong lancar.

I Wayan Jinah Pemilik Warung Lawar Kuwir

“Awalnya saya ikut bersama orang jual lawar kuwir selama 12 tahun. Setelah lama saya bekerja di warung makan lawar kuwir, saya mencoba memberanikan diri untuk membuka sendiri, astungkara jalan dan mampu memiliki omset 3 juta per hari,” cetus Wajan Jinah didampingi sang istri Ni Komang Ayu, Selasa (22/6).

Ditemui di warungnya, Wayan Jinah mengaku, melakoni usaha jual lawar kuwir ini dimulai sejak 9 tahun lalu lamanya, dengan dibantu istri tercintanya dan dua orang pegawai.

Dalam sehari, dirinya mengaku memotong lima sampai enam ekor kuwir yang diolah menjadi beraneka macam olahan tradisi Bali seperti lawar, sate, kuah ares, maupun serapah yang diolah dengan bumbu khas Bali.

Memiliki hobi memasak sejak kecil menjadi modal dirinya menguasai resep olahan yang digandrungi warga kota Denpasar, sehingga butuh waktu setengah hari dagangannya sudah ludes terjual. “Kami buka dari jam 8 sampai jam 2 sore sudah habis,” akunya seraya mengaku selama ini dirinya juga menerima pesanan untuk berbagai acara.

Lokasinya warung kuwir wayan jinah cukup strategis berada di jantung kota, berlokasi di Jalan Tukad Musi nomor 16 Panjer, Denpasar, warungnya tak pernah sepi, apalagi di jam makan siang akan tampak deretan motor dan mobil berjejer di depan warungnya.

Cukup membanderol harga Rp.15 ribu per bungkus, tidak terlalu banyak merogoh kocek konsumen pecinta lawar kuwir. Sedangkan untuk makan di tempat hanya Rp 25 ribu komplit dengan minuman.

Untuk kebutuhan daging, dirinya selama ini tidaklah sulit untuk persediaannya setiap hari. Dirinya langsung mendatangkan daging dari Jawa. Hanya saja, saat musim lebaran saja sulit mendapatkan daging.

“Kalau hari-hari biasa saya memotong 6 ekor, kalau ada pesanan bisa sampai 10 ekor. Astungkara setengah hari sudah habis,” ucapnya malu-malu.

Dalam sehari sekitar 150 porsi ludes terjual dalam waktu singkat. Kendati laris, dirinya tetap konsisten menjaga harga dan cita rasa yang menjadi prinsip dalam berbisnis kuliner, berharap pelanggan tetap setia untuk datang kembali. (Tim)