FGD di Kupang, Warmadewa Bahas Ketahanan Pangan Berbasis Gender dan Iklim

Focus Group Discussion Ketahanan Pangan di Kupang.

Focus Group Discussion Ketahanan Pangan di Kupang.

Kupang,diaribali.com — Universitas Warmadewa melalui pusat-pusat studi melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Memperkuat Ketahanan Pangan dan Resiliensi Nutrisi melalui Pemodelan Simulasi Responsif Gender dan Inovasi Kebijakan di Indonesia Timur”  dilaksanakan di Kupang, NTT Rabu, 8 Juli 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian yang didanai program International Science Partnerships Fund (ISPF), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia.

Dekan Fakultas Pertanian Undana, Dr. Tomycho Olviana, SP., MMA dalam sambutannya mengatakan NTT merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Melalui pemodelan yang akan dikembangkan dalam penelitian ini, Ia berharap riset ini dapat memberikan jawaban terhadap kondisi di NTT.

Ketua tim peneliti Dr. Agung Parameswara mengatakan topik isu ketahanan pangan telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, pertumbuhan penduduk, fluktuasi harga pangan, hingga dinamika geopolitik telah membuat persoalan pangan menjadi semakin kompleks.

Di Indonesia, tantangan tersebut semakin nyata ketika kita melihat adanya kesenjangan akses antar wilayah terutama Indonesia barat dan Indonesia timur yang mengalami situasi perubahan iklim serta situasi kerentanan kelompok masyarakat tertentu dalam memperoleh pangan yang cukup, bergizi, dan berkelanjutan.

Sesi utama menghadirkan empat narasumber. Melinda R. S. Moata, S.P., M.Sc., Ph.D. dari Politani membahas keterkaitan iklim, pangan, dan gender, khususnya bagaimana perempuan menjadi aktor penting dalam menghadapi kerentanan pangan akibat perubahan iklim.

Linda Tagie, aktivis gender, memaparkan kondisi kesetaraan gender di NTT, termasuk hambatan sosial, budaya, dan kelembagaan yang membatasi kapasitas serta kepemimpinan perempuan.

Selanjutnya, I Wayan Mudita, M.Sc., Ph.D, akademisi dari Undana menjelaskan praktik pertanian tangguh iklim, mulai dari perubahan pola tanam, strategi adaptasi petani, hingga kebutuhan dukungan teknologi, irigasi, benih, penyuluhan, dan akses pasar.

Dari unsur pemerintah, Nyoman Saniambara, S.K.M., M.Kes., Kabid Perencanaan dan Evaluasi Pembangunan BAPPEDA NTT, menyampaikan perspektif kebijakan dan program ketahanan pangan pemerintah daerah.

Desak Tristiana Dewi, kepala pusat studi perubahan iklim Universitas Warmadewa mengatakan FGD ini sebagai langkah awal penelitian ketahanan pangan dengan para stakeholders di NTT dan aktivitas akademis bersama fakultas pertanian Universitas Nusa Cendana. (Art)