Eksistensi Saptana Jagaraga di Era Pandemi

Komunitas Saptana Jagaraga saat ngayah di tengah pandemi.
Komunitas Saptana Jagaraga saat ngayah di tengah pandemi.
Bagikan

“Komunitas Seni Saptana Jagaraga mengemas pola atau cara ngayah dengan memilih perangkat gamelan yang menggunakan personil sedikit salah satunya yaitu gamelan selonding”

GIANYAR-DiariBali

Komunitas Saptana Jagaraga tidak asing terdengar di pulau dewata salah satu komunitas yang tetap menunjukkan eksistensinya dalam menjaga, melestarikan dan mengembangkan budaya kreatifitas seni meskipun badai pandemi melanda sampai saat ini.

Komunitas yang bermarkas di Singapadu, kecamatan Sukawati, kabupaten Gianyar ini terdiri dari kumpulan anak- anak muda kreatif dari beberapa banjar tidak mau terhayut dan tenggelam dengan situasi saat ini. Dimana 90 persen dari keanggotaan bergelut dibidang pariwisata mau tidak mau harus bangkit.

Aktivitas dan eksistensi ini dilakukan untuk menunjukan bahwa komunitas ini masih hidup dan bertujuan pula mengenai upaya yang akan dilakukan massa pandemi ini.

Ketua Komunitas Wayan Karyana menyampaikan ide dalam pengemasan personil dan membentuk kelompok ini setelah sempat berkomunikasi sehingga terlahir ide dari pembina utama I Wayan Darya, untuk berkreasi dibidang gambelan slonding yang hanya membutuhkan tenaga delapan hingga 10 orang, untuk tujuan agat tetap bisa ngayah tanpa mengurangi sujud bhakti.

“Jadi kita tetap bisa ngayah dengan menerapakan protokol kesehatan dengan jumlah pemain gambelan delapan sampai 10 orang yang tidak lupa tetap gunakan masker, dan anggota kami bagi menjadi delapan kelompok pada selonding ini, kalau ada panggilan ngayah jadi tinggal tunjuk kelompok yang dapat giliran,” ujar Kariana.

Doyok sapaan Karyana menambahkan, memilih perangkat selonding, disamping simpel, gamelan ini juga termsuk gamelan sakral yang boleh digunakan saat pelaksanaan upacara atau yadnya di masyarakat. Disamping eksisnya slonding di bidang seni pertunjukan di tahun ini yang terlihat langsung dibeberapa media sosial membuat komonitas ini tidak mau ketinggalan.

Pada kesempatan yang sama selaku pembina utama I Wayan Darya menyampaikan seniman Bali kaya akan ide yang berlian “tak ada rotan akar pun jadi” meskipun situasi sekarang membatasi namun, seni Bali mempunyai taksu adi luhung tak akan bisa terputus oleh keadaan.

Selain itu, masih banyak instrumen gambelan Bali yang dapat di peran aktifkan dengan jumlah peserta delapan sampai sepuluh orang misalnya gambelan selonding, gender, gambang dan jenis lainnya.

“Slonding itu klasik dan kita sebagai generasi harus tau gambelan ini, karena ini gambelan terbilang tua dan klasik,” ujar Darya komposer spesialis kekebyaran.

“Untuk komunitas Saptana Jagaraga saya kemas dengan gaya tabuh yang atraktif dan modern tapi tidak meninggalkan uger uger pakem dengan bentuk melodi khas selonding agar bisa di terima di telinga penikmat seni,” ucap Seniman tim sembilan provinsi Bali tersebut.(get)