Cara Memilih Pasangan Berdasar Sastra

Ida Peranda Gede Putra Batuaji
Bagikan

DENPASAR, Diari Bali

Sulinggih asal Desa Akah, Kabupaten Klungkung, Ida Peranda Gede Putra Batuaji mengkaji secara mendalam tentang memilih pasangan hidup yang ideal. Hal ini merupakan bagian terpenting dalam perjalanan hidup seseorang yang ingin berumah tangga. Sebab, kesalahan memilih pasangan akan berdampak buruk pada kualitas hidup pribadi, anak dan keluarga di masa depan.

“Ada lima prakara dimana manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti peran nasib perjalanan hidunya seperti: mati, jodoh, anugrah, nasib dan rizki” katanya ketika ditemui di Geria Batu Aji Semarapura. Minggu (25/4).

Menurut peranda, meskipun perjodohan adalah departemen asmara yang berada dibawah pengawasan dan kendali tuhan, bukan berarti hanya bisa berdiam dan berpangku tangan menunggu runtuhnya durian, namun, seseorang wajib berusaha agar tidak salah memilih yang akhirnya terpuruk dalam penyesalan.

Berawal dari kehati-hatian pemilihan pasangan, hendaknya pemilihan pasangan suami istri dengan mempertimbangkan  obor-obor yaitu bobot, bibit, bebet merupakan suatu alternatif bijak untuk menjawab konsep dalam The Law Of Attraction  getaran jiwa memancar, mencari, mendekat dan menarik getaran jiwa yang sama.

Sulinggih yang pensiun muda di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menjelaskan pertama bobot yaitu kualitas individu sang calon pasangan pada umumnya meliputi aspek pendidikan, akhlak, dan agama.

Bahagia atau tidak seorang istri sangat dipengaruhi oleh tingginya pendidikan sang suami. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kestabilan sosial ekonomi rumah tangga yang akan dijalaninya.

“Peranda mengutip dari prembon jawa kuno konsepsi bobot mempunyai nilai standar kompetisi yaitu jangkeping warni  (lengkapnya warna), Rahayu ing mana (baik hati), Ngertos Ungga Unggu (mengerti tata krama), Wasis (ulet/memiliki etos kerja),” katanya.

Yang kedua, lanjutnya bibit secara rafiah berarti rupa, asal-usul atau keturunan. Ini yang menjadi pertimbangan berdasarkan keturunan atau keadaan orang tua sang calon pengantin keturunan ini pula nantinya sangat berpengaruh pada keadaan sosial kemasyarakatan dalam rumah tangga yang akan dijalani oleh si pengantin. Tentu akan ada beban psikologis yang tinggi.

 
Lebih jauh Magister jebolan IHDN ini mengungkapkan  bebet ini memang penting tapi tidak terlalu penting, bebet memang bukan sendi utama dalam kritiria mencari jodoh. “Aja Katungkul Malang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman. janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi. tetapi, apa salahnya kalau status sosial seseorang juga menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan calon menantu, ungkapnya.

 
Hal tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa status sosial merupakan kebutuhan dasar manusia sesuai Maslow tentang hierarki kebutuhan manusia meliputi kebutuhan biologis akan rasa aman, untuk mencintai status sosial dan aktualisasi. DP1