Bupati Ngada Kirim Mahasiswa ke Jepang

IMG-20260204-WA0098

Denpasar,diaribali.com
Pemerintah Kabupaten Ngada mulai memetik hasil investasi panjang di bidang pendidikan. Bupati Ngada Raymundus Bena secara resmi melepas dua mahasiswa asal Ngada untuk mengikuti program kuliah sambil magang di Jepang, sebuah skema yang dirancang menembus sekat klasik antara kampus dan dunia kerja global.
Dua mahasiswa ITB STIKOM Bali tersebut, Sanjose Diego Sastronugroho Tambus dan Christianus Vieri Salam Koeng, dilepas di STIKOM Bali Convention Center, Denpasar, Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama resmi Pemda Ngada dan ITB STIKOM Bali, sekaligus dirangkai dengan pelepasan tujuh mahasiswa lain yang tengah menjalani karantina bahasa di LPK Dwipahara, Bangli.
Raymundus Bena menyebut program ini sebagai “janji yang tertunda” selama hampir empat tahun. Saat masih menjabat wakil bupati, gagasan kuliah sambil magang di Jepang belum bisa direalisasikan. Setelah menjabat bupati, program tersebut justru dijadikan unggulan daerah. “Kami ingin anak-anak Ngada tidak hanya lulus sarjana, tapi juga punya pengalaman kerja internasional,” kata Ray Bena.
Sejak Juli 2025, Pemda Ngada telah mengirim 49 mahasiswa ke ITB STIKOM Bali untuk mengikuti jalur kuliah magang Jepang. Tiga di antaranya kini sudah berada di Jepang, termasuk Pius Fernando Wou yang lebih dulu berangkat ke Yamanashi. Hingga Maret 2026, jumlah mahasiswa Ngada yang dijadwalkan terbang ke Jepang diproyeksikan mencapai 12 orang.
Direktur LPK ACE Indonesia, Pasquarleh, mengakui proses adaptasi bukan perkara mudah. Perbedaan budaya dan disiplin ala Jepang menjadi tantangan awal. Namun hasilnya mulai terlihat. “Sekitar 50 persen peserta sudah mendapatkan job di Jepang,” ujarnya.
Rektor ITB STIKOM Bali Dadang Hermawan menegaskan keunggulan model pendidikan ini. Mahasiswa tidak hanya mengejar ijazah, tetapi juga pengalaman kerja dan kemandirian ekonomi. “Saat lulus, mereka tidak lagi sibuk mencari kerja. Mereka sudah punya pengalaman, penghasilan, bahkan membantu keluarga,” kata Dadang.
Testimoni emosional datang dari Sanjose Diego. Berasal dari keluarga sederhana di Bajawa, ia menyebut proses belajar bahasa Jepang sebagai lompatan besar. “Kami datang dari nol. Digembleng pagi sampai sore, malam kuliah online. Dalam waktu kurang dari delapan bulan, kami bisa berangkat ke Jepang,” ujarnya.
Bagi para orangtua, keberangkatan ini bukan sekadar prestasi akademik, melainkan harapan sosial. Emirensiana Moi, ibu Christianus Vieri, mengaku bahagia sekaligus haru. “Kami petani. Jalan ini mungkin cara Tuhan menolong keluarga kami,” katanya terbata.
Program kuliah sambil magang ini menandai pergeseran orientasi pendidikan daerah: dari sekadar akses kuliah menuju penciptaan sumber daya manusia yang siap bersaing global. Dari Bajawa ke Jepang, Pemda Ngada sedang menguji satu hal penting—bahwa pendidikan, jika dirancang serius, bisa menjadi tangga mobilitas sosial yang nyata. (Art)