BKKBN-Korem 163/Wira Satya Pererat Kolaborasi Tekan Stunting di Bali

Perwakilan BKKBN Bali melakukan audiensi ke Korem 163/Wira Satya, Rabu (29/5).
Bagikan

DENPASAR, diaribali.com – Perwakilan Badan Kependudukan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi Bali terus berupaya menekan angka stunting di Bali dengan cara melibatkan berbagai pihak. Seperti bersinergi dengan Korem 163/Wira Satya.
Untuk memperkuat sinergi tersebut, secara khusus Perwakilan BKKBN Bali melakukan audiensi ke Korem 163/Wira Satya, Rabu (29/5).

Kunjungan BKKBN Bali ini diterima dengan hangat oleh Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida Bagus Ketut Surya Wedana didampingi Kasiter Kasrem 163/Wira Satya Kolonel Czi Eko Supri Setiawan dan Pasi Bhakti TNI Mayor Inf Ida Komang Widnyana.

Dalam pertemuan itu, Kepala Perwakilan BKKBN Bali, Sarles Brabar menyampaikan penguatan percepatan penurunan stunting melalui kerjasama lintas sektor.

“Bulan Juni 2024 akan ada penyelarasan hasil data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan e-PPGBM sebagai hasil akhir data stunting 2023 ,” kata Sarles Brabar.
Untuk itu, pihaknya berharap agar peran kader aktif dalam pencatatan balita dan baduta serta Babinsa agar bisa ikut bersama tim pendamping keluarga, dalam memberikan pendampingan kepada keluarga berisiko stunting.

“BKKBN tidak memiliki fungsi langsung memberikan bantuan dan hanya bisa membantu dari segi intervensi baik secara spesifik dan sensitif,” lanjutnya.
Lanjutnya, audiensi ini memperkuat mitra kerja antara BKKBN dengan TNI. “Kemarin kami telah melaksanakan rakornis menyangkut peran Babinsa di lapangan bersama pendamping keluarga,” jelasnya.

Sarles Brabar juga menuturkan, persentase angka stunting di Bali secara nasional terendah, dan turun menjadi 7,2 persen berdasarkan SKI.
“Penurunannya hanya 0,8 persen. Tren penurunannya masih sedikit. Target kita di tahun 2024 harus 6,15 persen,” ujarnya.

Pihaknya juga mengungkapkan dalam waktu dekat akan ada launching air bersih bersama TNI sebagai bentuk penguatan lintas sektor untuk mencegah stunting. “Sehingga dalam pertemuan ini kami ingin berkonsultasi untuk menetapkan lokus air bersih,” katanya.

Lanjutnya, lokus stunting tertinggi di Bali terdapat di Kota Denpasar. Untuk itu, tidak hanya dengan PKK pihaknya juga melakukan kegiatan bersama PKK dalam giat pelayanan KB dan penyerahan bantuan lainnya.

“Kami sangat mengapresiasi kinerja keras dari Babinsa dalam hal melakukan sosialisasi kepada calon pengantin (catin). Ini adalah upaya preventif kepada pada remaja untuk mempersiapkan diri sebelum pernikahan agar tidak menciptakan keturunan yang berisiko stunting,” tandasnya.

Sementara itu, Danrem Ida Bagus Ketut Surya Wedana menyampaikan terima kasih atas kunjungan rombongan BKKBN Bali.

Dikatakan, dari informasi yang didapatkan Bali dianggap menjadi daerah yang bebas stunting. Namun pada kenyataan masih ada stunting walaupun prevalensinya tergolong rendah.

Lanjutnya, Kepala BKKBN pusat telah melakukan konferensi bersama TNI terkait Program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS).

“Kami butuh data stunting maupun data berisiko stunting untuk kita dapat membantu, sehingga intervensi yang dilakukan bisa tepat sasaran,” pintanya.

Diharapkan akan ada update data secara sistematis, sehingga ini menjadi bahan untuk membantu. “Program BAAS ini sangat baik. Karena pemberian telur kepada anak stunting sangat membantu. Harapannya melalui program ini dapat membantu gizi dari anak berisiko stunting,” harapnya.

Terkait air bersih, lanjut Danrem, terdapat dua jenis pompa yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan pertanian. “Ada 220an di seluruh Kodam Udayana. Untuk di Bali ada 19 air. Kendalanya adalah TNI mengajak Pemerintah Daerah untuk menjaganya,” ungkapnya.

Lanjutnya, dalam pembangunannya menggunakan alat dari PUPR untuk mendeteksi sumber air bersih. “Lokus di Bali yakni Buleleng Barat, Karangasem dan Jembrana. Untuk air bersih di Karangasem dan Buleleng,” kata dia mengkahiri. rl