Badung Siapkan Jalan Terowongan Atasi Kemacetan

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa (tengah)

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa (tengah)

Badung,diaribali.com —
Pemerintah Kabupaten Badung, Bali, menyiapkan terobosan baru untuk mengurai kemacetan di wilayah selatan hingga utara. Salah satu opsi yang tengah dikaji ialah pembangunan jalan terowongan atau tunnel sepanjang sekitar 2,4 kilometer dari kawasan Jalan Gatot Subroto Barat menuju Canggu.

Rencana tersebut disampaikan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa seusai mengikuti Rapat Paripurna Masa Persidangan Pertama DPRD Kabupaten Badung Tahun Sidang 2026-2027, Kamis (3/9/2026).

Ia mengatakan, pembangunan jaringan jalan baru diperlukan karena kepadatan kawasan perkotaan membuat pelebaran jalan dengan memanfaatkan jaringan eksisting semakin sulit dilakukan.

Dalam konsep yang disiapkan, jaringan jalan tersebut tidak berhenti di Canggu. Koridor Gatsu Barat-Canggu kemudian diarahkan menjadi bagian dari jaringan jalan yang menghubungkan kawasan Badung Tengah dan Utara hingga Mengwi. Total jaringan jalan yang dirancang disebut mencapai sekitar 19 kilometer, sementara bagian yang berada di bawah tanah diperkirakan sepanjang 2,4 kilometer.

Menurut Adi Arnawa, opsi terowongan dipilih antara lain karena sejumlah kawasan yang dilintasi rencana jalan sudah dipenuhi permukiman. Dengan pembangunan bawah tanah, pemerintah berharap dapat mengurangi kebutuhan pembebasan lahan sekaligus meminimalkan potensi persoalan sosial. Sebelumnya, Pemkab Badung juga telah mengkaji ruas Gatsu Barat-Canggu dengan menggandeng Shanghai Tunnels Engineering Co. Ltd. (STEC).

Yang menarik, kajian tersebut melibatkan konsultan dari Shanghai yang disebut memiliki pengalaman mengerjakan proyek terowongan di China. Adi Arnawa mengatakan, berdasarkan penjelasan konsultan, teknologi yang sedang dikaji tersebut diklaim menjadi yang pertama diterapkan di Indonesia. Namun, pemerintah masih menunggu hasil kajian teknis sebelum menentukan bentuk dan metode pembangunan.

“Kami berikan waktu tiga minggu untuk membuat kajian. Setelah itu baru kita akan bisa tahu bagaimana nanti,” kata Adi Arnawa. Ia menegaskan, proyek tersebut masih berada dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan final pembangunan.

Dalam perencanaan awal, terowongan diperkirakan berada sekitar 15 meter di bawah permukaan tanah. Estimasi sebelumnya menyebut biaya pembangunan bagian terowongan dapat mencapai sekitar Rp3,5 triliun. Karena itu, selain aspek teknis, skema pembiayaan juga menjadi bagian penting yang harus dimatangkan sebelum proyek direalisasikan.

Di sisi lain, Pemkab Badung menyiapkan opsi Electronic Road Pricing (ERP) atau jalan berbayar elektronik. Kebijakan ini tidak hanya diarahkan untuk mengendalikan kepadatan lalu lintas di koridor Gatsu-Canggu-Munggu, tetapi juga diproyeksikan menjadi sumber pembiayaan berkelanjutan bagi pembangunan infrastruktur. Pemkab Badung bahkan menjajaki pengelolaan jalur ekspres berbayar melalui BUMD, sementara jalan eksisting untuk masyarakat tetap gratis.

Adi Arnawa mengatakan, pembangunan infrastruktur tidak boleh mengorbankan lahan pertanian. Karena itu, pengaturan lalu lintas melalui ERP juga dikaitkan dengan upaya menjaga lahan persawahan dari tekanan pembangunan. “Di satu sisi layanan infrastruktur jalan kita dapatkan, di sisi lain kita tetap bisa menjaga lahan kita, tidak terjadi alih fungsi lahan,” ujarnya.

Rencana tunnel dan ERP, kata dia,  menunjukkan bahwa Pemkab Badung tidak hanya mencari jalan keluar dari kemacetan, tetapi juga mulai mengubah pendekatan pembangunan transportasi.

Namun, lanjutnya,  sebelum masuk tahap pelaksanaan, pemerintah masih harus memastikan kelayakan teknis, dampak sosial-lingkungan, regulasi, serta kemampuan pembiayaan. PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sendiri sebelumnya meminta pematangan kajian teknis, regulasi, dan kelayakan investasi sebelum pembiayaan proyek dilanjutkan. (kan)