Badung Promo Tani: Etalase Lokal atau Jalan Panjang Kemandirian Pangan

Promo Tani di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung.

Promo Tani di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung.

Mangupura,diaribali.com — Pemerintah Kabupaten Badung kembali menggelar Badung Promo Tani di kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung.

Program ini diklaim sebagai strategi membangkitkan ekonomi lokal berbasis pertanian. Namun, di tengah dominasi pariwisata dan alih fungsi lahan yang terus terjadi, efektivitas langkah ini masih menyisakan tanda tanya.
Badung Promo Tani diposisikan sebagai ruang temu petani, pelaku UMKM pangan, dan konsumen. Pemerintah daerah menyebut kegiatan ini sebagai upaya menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi lokal. Di atas kertas, konsepnya menjanjikan: memotong rantai distribusi, mendekatkan produsen dengan konsumen, dan mengangkat produk pertanian lokal ke ruang publik yang selama ini lebih lekat dengan urusan birokrasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Wijana, Jumat, (6/2/2026), mengatakan, kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan pertanian dengan sektor pariwisata serta meningkatkan daya saing produk lokal. “Kami ingin menunjukkan bahwa produk pertanian lokal Badung memiliki kualitas yang baik dan mampu bersaing, baik dari sisi mutu maupun harga,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengakuan tersirat atas persoalan lama: produk lokal kerap kalah ruang oleh pasokan dari luar daerah. Promo Tani pun lebih tampak sebagai etalase—memperlihatkan potensi—ketimbang jawaban atas problem struktural pertanian di Badung, mulai dari menyusutnya lahan, minimnya regenerasi petani, hingga ketergantungan pada sektor pariwisata.
Kegiatan ini juga dirangkai dengan perayaan Hari Raya Imlek dan menyasar aparatur sipil negara (ASN) serta masyarakat sekitar Puspem Badung. Harapannya, konsumsi produk lokal bisa dimulai dari lingkungan birokrasi sendiri. Langkah ini dinilai simbolik, tetapi belum tentu cukup untuk mengubah pola konsumsi masyarakat secara luas.
Wijana menegaskan, sektor pertanian terbukti menjadi penopang ekonomi saat pandemi COVID-19. Ketika pariwisata terpuruk, pertanian justru bertahan. “Itu pelajaran penting. Pertanian harus terus didorong, termasuk dengan melibatkan generasi muda dan teknologi,” katanya.
Pada pelaksanaan kali ini, 30 kelompok tani dan UMKM pangan ikut serta, memamerkan hasil pertanian segar hingga produk olahan bernilai tambah. Penjualan dilakukan langsung oleh petani, dengan klaim harga lebih terjangkau dan kualitas terjaga.
Pemkab Badung berencana menjadikan Badung Promo Tani sebagai agenda berkelanjutan. Tantangannya, program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau pasar temporer di halaman kantor pemerintahan. Tanpa kebijakan yang lebih tegas soal perlindungan lahan pertanian, akses pasar berkelanjutan, dan insentif nyata bagi petani muda, kebangkitan ekonomi lokal berbasis pertanian berisiko tinggal jargon di tengah gemerlap industri pariwisata Badung. (Art)