Yoga Berkebaya, Pulihkan Ekonomi dan Pariwisata Sinergi Pang Pada Payu

Koordinator SP3 A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda (4 dari kiri) bersama Jegeg Undiknas.
Bagikan

“Pandemi Covid-19 yang telah memporak porandakan perekonomian Bali, hal ini menjadi pemantik untuk tetap berkreativitas, berinovasi, dan bangkit kembali dari keterpurukan. Seperti yang dilakukan Sinergi Pang Pada Payu (SP3) bersama desa binaan Desa Kenderan, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, dengan menggelar Yoga Berkebaya untuk memulihkan ekonomi dan pariwisata, serta meningkatkan kesehatan secara holistik, Minggu (27/6).”

GIANYAR- DiariBali
Pelaksanaan Yoga ini dalam rangka memperingati hari yoga sedunia yang jatuh pada 21 Juni. Yoga kali ini terkesan berbeda, pasalnya mengenakan kebaya tetapi melakukan gerakan-gerakan yoga pada umumnya sekaligus memperkenalkan kebaya sebagai fashion nusantara.

Hadir melalui virtual Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI,
Sandiaga Salahudin Uno, dalam sambutannya mengapresiasi Yoga Berkebaya melalui Sinergi Pang Pada Payu (SP3) ini yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan yoga dan bermanfaat untuk kesehatan masyarakat, serta mendorong kebangkitan UMKM, ekonomi, pariwisata, dan Budaya.

Menurutnya, berkebaya tidak lagi sekedar berpakaian, berkebaya merupakan simbol identitas seseorang sehingga melahirkan gaya hidup baru di masyarakat.

“Penggunaan kebaya tidak lagi dibatasi hanya digunakan saat upacara adat maupun keagamaan, melainkan banyak juga digunakan dalam kegiatan-kegiatan penting di masyarakat,” jelasnya.

Selain itu, Sandiaga juga mengajak masyarakat Kenderan untuk semangat berkegiatan. Mengingat Indonesia masih dalam situasu pandemi, pihaknga mengajak masayarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan, serta membangkitkan optimisme melawan Covid-19.

Peserta Yoga Berkebaya saat mengikuti gerakan Yoga dari Masyarakat Desa Kenderan.
Peserta Yoga Berkebaya saat mengikuti gerakan Yoga dari Masyarakat Desa Kenderan.

Sementara Koordinator Sinergi Pang Pada Payu (SP3). A.A.A Ngurah Tini Rusmini Gorda, memaparkan Yoga Berkebaya ini dalam rangka upaya pemulihan Ekonomi dan Pariwisata di Desa Wisata Desa Kenderan, Tegalalang, Gianyar di masa pandemi Covid – 19.

Tini Gorda menyampaikan, melalui kegiatan Yoga Berkebaya yang bertemakan “Sehat Holistik Untuk Geliat Ekonomi Pariwisata dan Budaya dalam Program Sinergi Pang Pade Payu” ingin menginisiasi kegiatan Yoga dengan busana kebaya dan ingin melaunching design kostum Yoga dengan sentuhan khasanah budaya Indonesia dan tampil sopan bagi budaya ketimuran, namun
tetap fleksible sehingga nyaman digunakan saat beryoga dan dapat
menggeliatkan inovasi dalam design kebaya sehingga secara otomatis
geliat ekonomi, pariwisata, dan budaya dapat berjalan dengan baik di masa Pandemi COVID – 19.

Fashion Show Berkebaya Jegeg Undiknas saat berfose diatas panggung.
Fashion Show Berkebaya Jegeg Undiknas saat berfose diatas panggung.

Kegiatan Yoga Berkebaya akan dilaksanakan secara daring dan
luring dengan target 1000 peserta. Tentunya peserta akan
dimeriahkan oleh peserta dari PRANI, SEKAR NADI, TIM SIP3, peserta difabel, Lembaga Pembinaan Khusus Anak Karangasem, Warga Binaan Lapas Perempuan Kerobokan
dan masyarakat luas baik Indonesia Masyarakat dunia.

Yang tidak kalah menarik, penampilan Fashion Show dengan berkebaya dari mahasiswa atau Jegeg Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) telah memeperagakan busana Yoga Berkebaya dengan balutan warna- warni yang menyemarakkan kegiatan tersebut.

Adapun tujuan dari kegiatan Yoga Berkebaya ini antara lain: Memperkenalkan lebih jauh manfaat Yoga bagi kesehatan secara
holistik. Memperkenalkan kostum Yoga dengan sentuhan khasanah
budaya Indonesia dan tampil sopan bagi ketimuran, namun tetap
fleksible sehingga nyaman digunakan saat beryoga. Mengembangkan ekonomi kreatif khusunya industri fashion dan membuka serta memperluas pasar dalam dan luar negeri untuk produk kostum yoga dengan budaya Indonesia. Semakin mengukuhkan dan memperkenalkan kebaya kepada masyarakat international sebagai produk kreatif budaya Nusantara.

“Yoga ini berperan dalam menggerakkan roda ekonomi provinsi Bali melalui pendampingan dan promosi desa wisata binaan desa
Kenderan yang akan di persiapkan sebagai destinasi wellness
tourism berkualitas dunia” pungkasnya.

Sementara menurut Relawan, Luh Putu Mahyuni, mengungkapkan selama ini masyarakat beranggapan yang salah, karena saat mendengar yoga masyarakat sudah ketakutan bahwa gerakan yoga itu gerakan sulit, identik akrobat, dan tubuh harus lentur sebelum melaksanakan yoga Padahal, justru sebaliknya saat yoga melenturkan otot dan peregangan.

Menurutnya, yoga merupakan suatu cara untuk memaksimalkan potensi diri melalui Astangga Yoga atau beberapa tahapan. Ia memandang ini kesempatan yang sangat bagus untuk berkolaborasi SP3. Selain juga ingin membangun kesadaran mengajak masyarakat untuk mengikuti yoga dengan pendekatan holistik.

“Harapan kami dengan memasukkan unsur budaya seperti berkebaya semoga dapat diterima oleh masyarakat Bali. Kami sinergi dengan SP3 untuk membumikan lagi yoga, namun kita hanya mengingatkan kembali definisi yoga yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Salah satu gerakan yang diberikan saat ini yaitu Yoga Namaskar yang berfungsi untuk memperkuat tulang punggung, karena tulang punggung adalah kunci kesehatan. Maka setiap orang mesti melakukan peregangan pada tulang punggung.

“Kali ini kita cukup pilih satu, kendati banyak jenis yoga. Untuk yang ini yoga namaskar yang memberikan power full dengan gerakan sederhana namun bermanfaat bagi kesehatan tubuh secara holistik,” sambungnya menambahkan.

Untuk diketahui, melalui gerakan SP3 ini berbagai kegiatan digelar untuk membangkitkan ekonomi dan pariwisata Desa Kenderan antara lain, Lelang Fashion, Edukasi Digital kepada kelompok “Sekar Nadi”, Wisata Tirta, dan Talkshow Kebaya.
(Tim)