Perkuat Implementasi Nilai Pancasila di Tengah Pandemi

Drs. I Gede Kusumajaya, MAP. sebelum membawakan materi kuliah umum.

DENPASAR-DiariBali

Pandemi Covid-19 telah merubah tatanan kehidupan manusia di seluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Setelah hampir dua tahun mewabah, Covid-19 melahirkan era yang dinamakan adaptasi kebiasaan baru. Tidak mudah menjalankan kebiasaan yang belum membudaya, terlebih di Indonesia yang jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa dengan keanekaragamannya.

Di satu sisi, pemerintah ingin melindungi warga negaranya dari virus mematikan ini dengan berbagai pembatasan, bahkan mengandung sanksi bagi yang membandel. Di sisi lain, belum semua masyarakat bisa menerima aturan baru berupa disiplin memakai masker, cuci tangan, jaga jarak, dan pembatasan kegiatan ada keagamaan.

Berangkat dari fenomena tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM), Universitas Ngurah Rai (UNR) menggelar Kuliah Umum bertajuk “Menerapkan Nilai-nilai Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19”, pada Sabtu (26/6) di Aula kampus setempat. Kegiatan ini diikuti seluruh mahasiswa secara daring dan luring.

Dekan FISHUM UNR Dr. Gede Wirata, S.Sos., SH., MAP., menjelaskan, dalam penanganan pandemi Covid-19, harus ada sinergi yang kuat antara pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dengan rakyat sebagai subyek hukum (kebijakan). Sehingga tujuan pemerintah berjalan sesuai harapan.

Drs. I Gede Kusumajaya, MAP. sebelum membawakan materi kuliah umum.
Drs. I Gede Kusumajaya, MAP. sebelum membawakan materi kuliah umum.

Di sinilah, menurut Wirata, Pancasila hadir sebagai jembatan dengan nilai-nilai luhurnya. Salah satu nilai yang sangat penting adalah gotong-royong. “Pandemi Covid-19 ini tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Kalau ingin cepat berlalu, maka mutlak diperlukan semangat gotong-royong,” jelas Wirata.

Akademisi asal Desa Bondalem, Tejakula, Buleleng ini mencontohkan, pembatasan kegiatan keagamaan menjadi kebijakan yang paling “tidak bisa” diterima oleh sebagian besar masyarakat Indonesia karena menyangkut kepercayaan. Namun ia mengingatkan bahwa tujuan pemerintah sangat baik; menyelamatkan nyawa warga negaranya, bukan melarang beribadah.

Pancasila, masih menurut Wirata, bukan sebatas simbol. Setiap gambar mengandung nilai yang sangat relevan diimplementasikan di masa pandemi ini. Misalnya sila kedua dengan simbol rantai emas tak terputus. Ini melambangkan refleksi relasi rakyat Indonesia yang saling terikat dan mendukung sampai kapan pun. Demikian juga Sila ketiga yang berlambang pohon beringin yang bermakna tempat berteduh dan kesatuan kendati masyarakat Indonesia sangat beragam.

“Mahasiswa sebagai agen perubahan kami harapkan menyebarkan wawasan yang didapatkan dari kuliah umum ini kepada keluarga dan lingkungan masing-masing. Sehingga kita kuat menjalani situasi ini,” tegas Wirata.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Klungkung I Gede Kusumajaya yang didapuk sebagai nara sumber tunggal menjelaskan, hingga saat ini, pandemi Covid-19 masih menghantui dunia. Sehingga masyarakat jangan sampai lengah dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Dalam menangani pandemi atau bencana lainnya, yang ditonjolkan adalah semangat persatuan sebagai sesama umat manusia, bukan dilihat dari kepercayaan atau suku tertentu. Pandemi Covid-19 sekaligus menguji semangat nasionalisme Bangsa Indonesia membantu saudara-saudaranya.

Kusumajaya yang notabene alumnus UNR ini menyebut, Klungkung dengan spirit “Gema Santi” di bawah kepemimpinan Bupati Nyoman Suwirta, adalah kabupaten yang sukses mengimplementasikan kehidupan toleransi antar-umat beragama. Hal ini dibuktikan dengan “Harmony Award 2020”.

Ia berharap, mahasiswa FISHUM UNR sebagai kaum intelektual mampu menggetok-tularkan semangat Pancasila di tengah masyarakat. “Nilai-nilai Pancasila tetap relevan kapan pun, dan dalam keadaan apa pun. Mari kita tingkatkan imun sesuai ajaran luhur ini agar pandemi Covid-19 cepat berlalu,” pungkasnya dalam kuliah umum yang dipandu alumnus UNR I Dewa Gede Putra Sedana, S.Sos., MAP. (TIM)