Giri Prasta Buka Parum Sabha Panditha

Giri Prasta Buka Parum Sabha Panditha
Bupati Giri Prasta saat membuka Parum Sabha Panditha dan Dharma Patni Kabupaten Badung tahun 2021 di Ruang Kriya Gosana, Puspem Badung, Minggu (27/6/2021). 

“Sebagai wujud meningkatkan sradha bhakti sekaligus menyamakan persepsi, Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Provinsi Bali melaksanakan Parum Sabha Panditha dan Dharma Patni”.

MANGUPURA-DiariBali

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta yang juga selaku Ketua Umum Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR) Provinsi Bali secara resmi membuka Parum Sabha Panditha dan Dharma Patni Kabupaten Badung tahun 2021 di Ruang Kriya Gosana, Puspem Badung, Minggu (27/6/2021). 

Bupati Giri Prasta menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program rutin MGPSSR di Kabupaten Badung yang kali ini disebut Parum Sabha Panditha dan Dharma Patni. Sabha Panditha ini adalah rapat koordinasi para Sulinggih, Ida Pandita Mpu Nabe bersama-sama Ida Pandita Mpu untuk menyamakan persepsi.

Adapun pelaksanaan acara ini bertujuan untuk melaksanakan program kegiatan atau ayah-ayah melayani umat, khususnya umat pasemetonan.

Dharma Patni ini sebagai kelompok ibu-ibu MGPSSR. Nantinya dharma patni akan membuat program yang sejalan dengan program dari Pemkab Badung. Seperti membuat program taman bumi banten untuk mendukung kegiatan upakara dan upacara, program menjadi serati, program PAUD/TK Hindu berbahasa ibu dan banyak hal lain yang akan dilakukan.

“Ini adalah program di MGPSSR, termasuk Sabha Yowana dan Sabha Welaka juga kita ada. Kami juga miliki Jaga Baya Pasek dan Jaga Baya Dulang Mangap. Kita sudah persatukan semua untuk betul-betul kita harus bangkit, bergerak, berjuang bersama melalui semeton Pasek untuk Bali,” jelasnya.

Selaku orang nomer satu di Badung ini menjelaskan sudah barang tentu memberikan fasilitasi kepada semua klan yang tertuang dalam Bagawan gita
konsep Vasudhaiva Kutumbakam (kita adalah saudara).

Misalkan kalau bicara tentang sulinggih, kita sudah ada klan di Bali ini dan tidak pernah hilangkan itu. Contoh kalau sulinggih medwijati, klannya brahmana itu namanya Ida Pedanda, para Dewa namanya Ida Bhagawan, para Arya, Gusti namanya Rsi Agung, semeton Pande namanya Sri Mpu Pande, Pasek namanya Ida Panditha Mpu, sedangkan di Puri itu sebenarnya Ida Dalem.

“Inilah perlu kita mengembalikan wed, untengnya Bali. Kita hanya meluruskan dan jangan ada lagi kotak-kotak urusan yang ada di Bali ini,” jelasnya.

Ketua Harian MGPSSR Kabupaten Badung Gde Eka Sudarwitha menyebutkan parum sabha panditha dan dharma patni MGPSSR Badung ini bertujuan untuk memantapkan program kegiatan lima tahun kedepan mengenai upacara panca yadnya di kabupaten badung khususnya di pasemetonan MGPSSR.

Dijelaskan, program yang telah dilaksanakan yaitu pelatihan pemangku yang diikuti tidak hanya oleh pemangku dari pasemetonan pasek, juga dilakukan untuk pemangku lintas semeton.

Selain itu pihaknya juga telah membentuk Pasikian Krama Istri (Pakis) Desa Adat, hal ini muncul dari para istri Bendesa se-Badung.

“Hal ini bertujuan meningkatkan sradha bhakti umat terintegrasi dengan Desa Adat kita di Badung,” imbuhnya. 

Ketua Sabha Panditha MGPSSR Badung, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Reka Merta Yoga menyampaikan, parum sabha panditha dan dharma patni ini guna membahas program kerja sabha panditha tahun 2021-2026.

Diharapkan dalam pembahasan program ini muncul pemikiran-pemikiran yang suci dan cerdas serta kebijaksanaan sehingga program kegiatan yang dihasilkan oleh sabha panditha untuk lima tahun kedepan dapat membantu meningkatkan sradha lan bhakti umat. (Get)