Tahun Ajaran Baru, SMAN 8 Denpasar Siap PTM, Komite Pastikan Prokes

(kiri-kanan) Ketua Komite SMAN 8 Denpasar Dr. Drs. I Made Gde Putra Wijaya, SH., M.Si., bersama Kasek Drs. I Made Arsana, M.Pd.

“Menyambut tahun ajaran baru 2021/2022, Juli 2021 ini, SMA Negeri 8 Denpasar berencana melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).
Protokol kesehatan menjadi syarat mutlak PTM karena situasi masih dalam Pandemi Covid-19″

DENPASAR- DiariBali
Untuk memantapkan rencana PTM tersebut, para orangtua peserta didik diwakili oleh komite sekolah meninjau fasilitas pendukung protokol kesehatan (prokes) di sekolah setempat, dilanjutkan dengan rapat koordinasi bersama kepala sekolah dan jajaran, Selasa (8/6).

“Berkenaan dengan dilaksanakannya PTM Juli mendatang, kami dari komite yang diberi mandat oleh orangtua siswa harus memastikan sarana prasarana dan kelengkapan protokol kesehatan di sekolah ini,” kata Ketua Komite SMA Negeri 8 Denpasar I Made Gde Putra Wijaya di sela kegiatan.

Putra melanjutkan, pihaknya juga ingin mengetahui teknis pengaturan ruangan agar tidak terjadi kerumunan, termasuk memastikan bahwa seluruh guru dan pegawai telah divaksin. Menurutnya, semua harus melewati proses matang guna mencegah klaster baru penularan Covid-19.

“Indonesia tidak mau kehilangan generasi karena gara gara Covid 19 ini. Masalah kesehatan anak didik sangat penting, meskipun masalah pendidikan nya juga tidak bisa diabaikan. Mari kita dukung PTM dengan tetap disiplin prokes,” tegas dia.

Kepala SMA Negeri 8 Denpasar I Made Arsana mengatakan, persiapan PTM di sekolah yang ia pimpin telah mencapai 100 persen. Mulai dari belasan wastafel, hand sanitizer, alat pengukur suhu badan, serta pengaturan bangku di ruang kelas.

Berdasarkan petunjuk pemerintah, kata dia, setiap sekolah diizinkan menggelar PTM dengan melibatkan maksimal 50 persen peserta didik. Namun, di SMA Negeri 8, pihaknya hanya melibatkan 30 persen dari total 1.500 peserta didik kelas X, XI dan XII.

“Kami punya 1.500 murid. Untuk di awal PTM kami hanya ambil 30 persen, artinya lebih kurang 500 murid yang PTM dengan shift yang sudah ditentukan. Sedangkan sisanya mengikuti pembelajaran daring,” kata dia.

Arsana menambahkan, hampir semua orangtua peserta didik setuju alias mengizinkan putra-putrinya mengikuti PTM. Selain dilanda kejenuhan, mereka khawatir kualitas pendidikan menurun. “Kami mempercepat PTM justru karena dorongan orangtua murid yang menyampaikan aspirasinya lewat telpon ke sekolah,” pungkas dia. (Tum)