Sudahi Polemik PPDB, Ini yang Diusulkan Praktisi Pendidikan

MS Chandra Jaya
MS Chandra Jaya

“Pemerintah diminta menyetop atau memoratorium pembangunan sekolah negeri baru dan menghentikan jargon sekolah gratis agar sekolah swasta merasa diperlakukan secara adil”.

DENPASAR-DiariBali
Pengelola sekolah swasta di bawah naungan yayasan semakin gencar angkat suara menyikapi rasa ketidakadilan yang mereka rasakan akibat kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.
Misalnya saja, pembangunan sekolah negeri yang masif disertai jargon sekolah gratis, serta banyaknya intervensi yang dilakukan oknum-oknum anggota dewan yang mengakibatkan membludaknya jumlah peserta didik di sekolah negeri. Kondisi ini diperparah dengan ditariknya guru-guru PNS Diperbantukan (DPK) dari sekolah swasta.
Tak mengherankan, jika setiap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu terjadi polemic seolah terjadi perang dingin antara pemerintah daerah dengan yayasan pengelola pendidikan.
Menurut MS Chandra Jaya, punya pandangan tersendiri menyikapi persoalan ini agar tidak berlarut-larut dan mentradisi setiap tahun.
Pertama, praktisi pendidikan senior ini mengusulkan agar pemerintah memoratorium pembangunan sekolah negeri. Sebab, kata dia, membangun sekolah negeri bukan satu-satunya solusi dari kebutuhan akan sekolah masyarakat.
Daripada membangun sekolah negeri baru yang memakan anggaran besar, lebih baik memberdayakan sekolah swasta yang jelas-jelas memiliki peran mencerdaskan kehidupan bangsa sejak zaman pra kemerdekaan.
Selanjutnya, MS Chandra Jaya meminta pemerintah daerah menyetop jargon sekolah gratis. Kata dia, jargon ini sangat tidak berkeadilan dan juga “membunuh” sekolah swasta secara perlahan.
“Di salah satu SMA negeri favorit di Denpasar itu muridnya pakai mobil-mobil mewah tapi dapat sekolah gratis. Sementara murid SMA swasta di sebelahnya yang kelas ekonomi bawah, harus membayar. Di mana keadilannya?,” tegas dia.
Lebih lanjut, dia mengusulkan agar PPDB di sekolah negeri dilakukan setelah PPDB di sekolah swasta berakhir. “Saya tahu usulan ini berat bahkan tidak mungkin rasanya, tapi kami tetap berusaha,” ujarnya. (GET)