STIE Satya Dharma Tetap Eksis di Tengah Kompetisi

STIE Satya Dharma
Bagikan

BULELENG, diaribali.com – Berdiri sejak 1 Maret 1996 di bawah badan penyelenggara Yayasan Ratiny Gorda, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Satya Dharma tergolong berhasil menjaga eksistensinya di tengah kompetisi yang semakin menantang.

Salah satu indikatornya adalah jumlah mahasiswa baru tiap tahunnya yang relatif stabil. Tahun akademik 2023/2024 ini, STIE Satya Dharma menerima 98 mahasiswa baru, terdiri dari Program Sarjana Prodi Manajemen 79 orang, dan Prodi Diploma 3 Akuntansi 20 orang.

“Kami sangat syukuri jumlah mahasiswa baru sejumlah itu. Termasuk lumayan untuk ukuran sekolah tinggi dengan dua program studi (prodi),” kata Ketua STIE Satya Dharma Singaraja Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani, SE., MM., dikonfirmasi dari Denpasar, Minggu (10/9).

Menariknya, mahasiswa barunya tidak hanya berasal dari Bali, tapi Nusa Tenggara Barat, Pulau Jawa dan Sulawesi. Menurutnya, hal ini juga menandakan, lembaga yang dipimpinnya diperhitungkan di level nasional.

Untuk menyamakan persepsi, seluruh mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Sabtu (9/9), lalu. Di STIE Satya Dharma, istilah PKKMB bertajuk Bima (Bina Mahasiswa) Kreasi; Kreativitas Mahasiswa Masa Kini.

Juli Nuryani, menambahkan, Bima Kreasi bertujuan memperkenalkan sistem kehidupan kampus, membangun keakraban antar-mahasiswa, dosen, pegawai dan lingkungan. Apalagi mahasiswa baru berasal dari berbagai latar belakang berbeda.

Terkait tema, Juli Nuryani mengungkapkan, agar mahasiswanya menjadi manusia profesional di bidangnya, berpengetahuan luas, menguasai teknologi, religius dan  memiliki dasar kepemimpinan. Hari pertama adaptasi, menghadirkan nara sumber dari PT. Pegadaian serta MoU dengan Pusat Studi Undiknas.

Lebih lanjut, ia membeberkan, cara STIE Satya Dharma mempertahankan eksistensi di dunia pendidikan tinggi. Pertama, dalam pengajaran, pihaknya selalu adaptif dengan kurikulum yang mana saat ini dikenal dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, dan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan para pihak yang bekepentingan.

Berikutnya membangun kolaborasi, sinergi dan koordinasi dengan para pihak pemangku kepentingan pendidikan tinggi. Bidang penelitian, melakukan penelitian dalam bentuk research and development yang nantinya dapat membantu para pemangku kepentingan dalam meningkatkan kegiatan usahanya.

Bidang Pengabdian, berupaya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan bina desa. Sehingga mampu mendorong masyarakat untuk bertindak kreatif inovatif agar memiliki kemampuan daya saing yang tinggi.

“Dalam menunjang kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini, tentunya kami melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, misalnya melaui MOU yang telah kami lakukan dengan berbagai pemangku kepentingan, sehingga kami berbenah untuk dapat tetap memberikan yang terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.

STIE Satya Dharma Singaraja adalah “Taj Mahal” dari Prof. Dr. IGN Gorda (alm) kepada istri tercinta, Ny. Ratiny Gorda, saat belahan hidupnya mendahului ke pangkuan pertiwi. rl