Prof. Arnawa Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Pertama di UPMI

Prof. Arnawa Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Pertama di UPMI
Pengukuhan Prof. Dr. Drs. I Nengah Arnawa, M.Hum., sebagai Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Linguistik UPMI, Selasa (24/1).
Bagikan

DENPASAR, diaribali.com – Selasa, 24 Januari 2023 menjadi hari bersejarah bagi civitas akademika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, sebab, pertama kali di lingkungan UPMI, salah seorang dosen mampu meraih gelar akademik tertinggi yakni Profesor.

Dr. Drs. Nengah Arnawa, M.Hum dikukuhkan sebagai guru besar tetap pertama dalam ilmu linguistik oleh Rektor Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., di Aula kampus setempat, Selasa (24/1/2023).

Sebagai guru besar pertama, dalam acara pengukuhannya, Prof. Arnawa membawakan orasi ilmiah  berjudul “Inferensi Kebenaran Tindak Ujar Performatif”.

Menurut dia, kemampuan berbahasa merupakan salah satu ciri pembeda manusia dengan makhluk lain. Hanya manusia yang diberkati kemampuan penguasaan bahasa oleh Tuhan.

“Benar makhluk lain bisa berkomunikasi sesamanya, misalnya lebah yang diidentifikasi memiliki cara berkomunikasi yang paling rumit akan tetapi tidak bisa diidentifikasi sebagai bahasa karena tidak sistematik,” ujarnya.

Rektor UPMI, Made Suarta menyampaikan rasa bangga dan bahagia atas peraihan dosen dari Prodi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia ini. Kata Suarta, gelar ini telah lama ditunggu baik oleh civitas maupun almarhum Drs. Reda Gunawan yang menjadi salah satu pendiri UPMI.

“Kita telah telah lama memimpikan, dan hari ini menjadi kenyataan,” kata Suarta sembari bertepuk tangan.

Prof Arnawa, lanjutnya, meraih gelar Profesor berkat perjuangan yang begitu panjang dan melelahkan, namun ia tak pernah putus asa. Doa, kerja keras dan berkolaborasi menjadi  bagian dari proses perjuangan pengorbanan baik moral maupun material.

“Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, tidak ada perjuangan tanpa kerja keras.Ketekunan, keuletan dan pantang menyerah itu yang dilakukan oleh Prof. Arnawa. Dan saya tahun betul bagaimana ia berjuang,” ujarnya.

Suarta melanjutkan, dengan bertambahnya gelar yang disandang, mesti menuntut tanggung jawab yang lebih besar, mengingat ke depan beban  menjadi semakin berat.

Guru besar, kata dia, pada hakikatnya seorang guru, pendidik sekaligus peneliti yang hasil penelitiannya ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas sebagai bagian wujud dari pengabdian dalam bidang akademik.

“Menjadi seorang profesor bukan akhir dari karir seorang dosen namun mampu menjadi penyemangat dan insfirasi kepada junior dan teman sejawat untuk meraih jabatan akademik tertinggi guna meningkatkan SDM unggul sekaligus kredibilitas lembaga.menjadikan UPMI sebagai perguruan tinggi unggul yang mampu bersaing dalam tingkat nasional dan internasional,” imbuhnya.

Ketua YPLP PT IKIP PGRI Bali, Drs. IGB Arthanegara, SH., MH., M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas dikukuhkannya guru besar tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini merupakan usaha yang penuh suka duka, pahit getir, hingga cobaan dan lika-liku yang tidaklah mudah.

“Astungkara perjalanan berhasil dan tercapailah jabatan akademik tertinggi yang menjadi idam-idaman setiap insan dosen,” ujarnya.

Dikatakan, UPMI memiliki dosen bergelar doktor sebanyak 34 orang, sedangkan 11 dosen kini sedang menempuh pendidikan S3.

“Ini potensi besar untuk menghantarkan UPMI bersanding lebih terhormat lagi dengan perguruan tinggi lainnya,” kata dia. Zor