Olah Limbah Kulit Kopi jadi Pakan Ternak Sapi, Akademisi Unwar Berikan Pendampingan 

Tim Pengabdian kepada masyarakat Universitas Warmadewa di Kelompok Ternak Selulung Jagadhita
Bagikan

BANGLI, diaribali.com – Berdasarkan hasil penelitian Sudita (2023) seorang Dosen Prodi Peternakan Universitas Waradewa (Unwar) menemukan fermentasi limbah kulit kopi sebagai pakan tambahan  dapat meningkatkan bobot kambing secara significant sampai 15%.

Mengingat kambing memiliki karakteristik yang sama dengan ternak sapi sebagai ternak ruminansia,  maka pemberian kulit kopi fermentasi untuk ternak sapi juga dapat meningkatkan bobot badan dibandingkan hanya diberikan pakan rumput saja.

Hasil penelitian Sudita (2022) ini juga sudah dilakukan pada ternak babi, substitusi pemberian kulit kopi pada level 10% secara nyata meningkatkan bobot badan. Sekarang sedang diteliti pemberian permentasi limbah kulit kopi pada pakan ternak itik.

Hasil penelitian tersebut layak diimplementasikan  dalam bentuk pengabdiaan kepada masyarakat kerjasama dari Tim Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unwar yang diketuai Dr. I Wayan Kartana, SE., M.Sc., Anggota Dr. I Made Wianto Putra, SE., M.Si., A.A. Bagus Amlayasa, SE., M.Si. dan Ir. Yan Tonga, M.Si., dengan mitra Kelompok Ternak Sapi Selulung Jagadhita diketua oleh I Ketut Darmada, S.Par.

Dipilihnya  Kelompok Ternak Selulung Jagadhita mengingat Selulung sebagai sentra penghasil kopi dan peternak sapi. Banyak peternak mengeluhkan kesulitan memenuhi kebutuhan pakan ternak mereka, terutama di musim kemarau.

Petani juga sering kelebihan rumput gajah pada musim hujan dan kekurangan bahan pakan ternak pada musim kemarau. Banyak limbah seperti kulit kopi, labu siam dan hijauan lainnya belum dimanfaatkan sebagai alternatif pakan ternak.

Berdasarkan permasalahan dan potensi yang ada di Desa Selulung Tim PKM Unwar mendatangkan peneliti fermentasi pakan ternak dari limbah kopi dan rumput gajah yakni Dr. Ir. Dewa Nyoman Sudita, M.P., untuk memberikan pelatihan pembuatan permentasi pakan ternak dari limbah kopi dan rumput gajah.

Menurut Dr. Ir. Dewa Nyoman Sudita, MP strategi fermentasi pakan dari rumput gajah pada intinya meningkatkan kualitas pakan terutama kandungan protein, dan dapat menyimpan pakan untuk kebutuhan waktu tertentu. Sedangkan fermentasi kulit kopi memanfaatkan limbah industry pengolahan kopi yang banyak tersedia diwilayah Kintamani menjadi pakan yang berkualitas dengan kandungan protein mencapai 16,67%.

Dengan pemberian pakan yang berkualitas baik rumput gajah maupun limbah kulit kopi, maka pertambahan bobot harian ternak bisa lebih tinggi. Apabila dilihat dari segi ekonomi, maka hal ini akan dapat meningkatkan keuntungan petani.

Terkait proses fermentasi pakan ternak, Dr. I Wayan Kartana, SE., M.Sc. memaparkan tentang perhitungan harga pokok produksi pembuatan fermentasi pakan ternak kulit kopi dan rumput gajah. Menurut Wayan Kartana setelah peternak bisa membuat pakan ternak mereka harus bisa menghitung biaya produksinya.

“Informasi tentang biaya produksi setiap kg pakan ternak dapat digunakan sebagai dasar membuat anggaran biaya kebutuhan produksi, penetuan harga jual. Kalau ada surplus pakan yang mau dijual kepada peternak lain, serta untuk menentukan harga pokok pemeliharaan ternak,” jelasnya.

Informasi tentang biaya produksi dan biaya pemeliharaan ternak merupakan informasi penting untuk menentukan berapa persen prolehan laba setiap tahunnya. Prosentase laba ini bisa dibandingkan dengan prosentase laba investasi pada umumnya sebagai dasar untuk mengambil keputusan apakah investasi pada ternak sapi lebih menguntungkan dibandingkan dengan investasi lain pada umumnya.

I Ketut Darmada selaku Ketua Kelompok mengucapkan terima kasih kepada TIM PKM Unwar telah memberikan pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi dan bagaimana menghitung biaya produksinya. Pelatihan ini sangat dibutuhkan dan sangat bermanfat karena bisa mengatasi masalah klasik peternak tradisional di Desa Selulung.

“Peternak tidak bisa memelihara sapi terlalu banyak karena mencari pakan ternak dengan cara menyabit memakan banyak waktu dan melelahkan dan akan menghambat aktivitas berkebun dan kegiatan sosial lainnya,” ungkapnya.

Parahnya lagi kata dia, saat musim kemarau rumput tumbuhnya sangat lambat hampir seluruh waktu dihabiskan untuk mencari pakan ternak. Adanya pelatihan bisa mengatasi masalah klasik dan dapat memihara ternak sapi lebih banyak sehinga pupuknya bisa untuk meningkatkan produksi pertanian, menghemat pemebelian pupuk dan peningkatan pendapatan dari ternak yang berdampak pada semakin sejahteranya peternak dan petani.rl