Muliakan Tumbuhan, Jalankan “Tumpek Wariga”

Persembahan Terhadap Tumbuhan saat Tumpek Wariga (Ist)
Bagikan

DENPASAR, DiariBali-
Pemaknaan Hari Raya Tumpek Wariga yang jatuh pada Hari Sabtu Keliwon wuku Wariga atau Tumpek Uduh atau sering juga disebut Tumpek Pengarah atau Tumpek Pengatag memberikan makna untuk menghargai dan menyamarasakan kehidupan tumbuh-tumbuhan (tanem tuwuh) yang ditujukan kepada Dewa Sankara dalam manifestasinya sebagai Dewa Tumbuh-tumbuhan. Tumpek Uduh adalah rerahinan awal untuk menuju kemenangan Dharma Raya Galungan 25 hari yang akan datang (selae lemeng galungan).

“Kaki-kaki titiang mapengarah, malih selae rahina Galungan, mabuah nyen apang nged, nged, nged”
Demikian doa sederhana yang sering didengar seperti bahasa memperingatkan kepada tumbuhan buah agar cepat berbuah lebat karena perayaan Galungan sudah dekat. Tumbuh-tumuhan diharapkan dapat bekerja maksimal dengan memberikan kontribusi buah yang banyak sehingga pada hari Raya Galungan buah dapat dipetik.

Buah-buahan ini tentunya (yang diupacarai red) akan dipergunakan untuk bahan upacara menyongsong Hari Raya Galungan sebagai simbol kemenangan Dharma. Tumpek Uduh adalah sebagai tonggak peringatan manusia hidup dari tumbuh-tumbuhan dengan memberikan manfaat yang sangat baik.

Dalam Lontar Sundarigama dinyatakan sebagai berikut :
Wariga Saniscara Keliwon ngaran puja kertinira Sang Hyang Sankara, apan sira umerdiaken sarwa ning tumuwuh, kayu-kayu kunang, widi widania peras, tulung, sesayut, tepung bubur mwang tumpeng agung, iwaknia guling dadi, patikwenang, saha raka, penyeneg tetebus, kalingania anguduh ikang tanem tuwuh, asetana sekar awoh agodong, dadiya urip ikang sarwa janma.

Artinya : Pada hari Sabtu Keliwon Wariga disebut Tumpek Panguduh, pemujaan terhadap Sang Hyang Sankara, beliaulah yang menghidupkan segala jenis tumbuh-tumbuhan seperti berbagai jenis kayu-kayuan, upacara-upakaranya terdiri dari : Peras, Tulung, Sesayut, Bubur tepung dan Tumpeng agung memakai daging guling dilengkapi dengan jajan dan buah-buahan, penyeneng tetebus, dipakai sarana untuk menyuruh semua jenis tumbuh-tumbuhan agar dapat berdaun, berbunga dan berbuah yang lebat untuk membantu kehidupan semua manusia.

Akademisi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, I Kadek Satria, Jumat (13/5), menilai melihat berbagai hal yang berkembang saat ini, seperti misalnya pembabatan hutan, dan sebagainya, membuat kita lebih berbangga dengan ajaran leluhur bahwa apa yang diajarkan sangat mampu untuk menjaga alam, memelihara segala isinya sehingga keharmonisan itu bisa terwujud.

Ajaran leluhur mengarahkan manusia untuk mengingat, menjaga, melestarikan segala yang ada ini untuk kehidupan selanjutnya. Para leluhur berfikir untuk anak cucunya sebagai bagiannya yang menikmati keharmonisan itu sampai sekarang ini.

Pria asal Bumi Panji, Buleleng ini mengajak penting kiranya untuk merenungkan berbagai kehidupan yang senantiasa bergantung kepada alam, dengan alam yang landuh dan lestari mampu memberikan manfaat yang lebih kepada manusia. Kesehatan sebagai modal utama kehidupan manusia bukan tidak mungkin disebabkan oleh alam yang Jagadhita, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan.

Keberadaan hewan juga adalah berasal dari tumbuhan, sehingga tumbuhan inilah yang memerlukan kelestarian yang baik sehingga hewan dan manusia sebagai penikmatnya mampu juga memperoleh keutamaan dan kesehatan.

Lebih jauh ia menyebutkan, program Pemerintah Provinsi Bali yaitu Nangun Sat kerthi Loka Bali adalah salah satu jembatan untuk membangun kembali kesadaran manusia kepada sarwaning tumuwuh agar selalu memberikan nilai kebaikan kepada kita. Keenam langkah nyata sesuai dengan landasan filosofis agama Hindu di Bali ini merupakan cara yang mesti diwujudnyatakan demi kelestarian alam.

“Hal ini bisa kita bangun kembali dengan kesadaran bahwa sudah seharusnya kita sebagai salah satu mahluk yang paling cerdas untuk membantu penyeimbangan alam ini dari segala bidang. Dalam konsep Hindu kita mengenal segalanya yang ada ini termasuk dalam semua mahluk yang ada, diresapi oleh Tuhan,” terangnya.

Ditambahkan, Tuhanlah yang menjadi pengeraknya serta sebagai inisiator segala yang ada ini. Seperti tertuang pada kalimat pendek veda ini Isvarah Sarva Bhutanam (Tuhan bersemayam dalam segala makhluk) – yang memberikan makna bahwa eksistensi Tuhan ada dalam jiva-jiva semua makhluk). Jika demikian halnya, semua mahluk berhak untuk hidup, berhak untuk diberikan keterjaminan oleh alam ini tanpa pembedaan apakah itu segala bentuk hewan ternak dan sebagainya.

Selain itu, dalam Bhagavadgita Adhyaya 15 sloka 7 dinyatakan sebagai berikut: mamaivamso jiva-loke jiva bhutah sanatanah (Seluruh makhluk hidup adalah partikel-partikel Tuhan Yang Maha Esa yang kekal dan memiliki kesadaran). Jika dikaitkan dengan Tumpek Uduh, maka ini sangat tampak bagaimana Hindu Bali mengaplikasikan isi dari sastra bhagawadgita diatas.

Jadi manusia tidak bisa menampik untuk menyatakan bahwa yang berhak hidup di alam ini hanya manusia dan hewan, tumbuhanpun sangat berhak untuk hidup. Upaya Nangun Sat Kerthi Loka Bali inilah yang perlu diberikan apresiasi bahwa, program ini tidak ada maksud untuk meniadakan satu dari yang lainnya, namun mengintegrasi kebermanfaatan sehingga mampu menjadi salah satu sarana hidup yang memang dibutuhkan oleh masyarakat. Disini juga bisa dilihat bagaimana integrasi yang berlangsung mampu bersimbiosis mutualisme satu dengan yang lainnya.

Lantas, apakah kita sudah berfikir untuk anak dan cucu kita nanti? mungkin pertanyaan ini perlu direnungkan bersama.

Nangun Sat Kerthi Loka Bali merupakan salah satu usaha pemerintah untuk mengingatkan manusia agar sadar akan lingkungan, sadar akan diri bahwa harus mempersiapkan sesuatu yang baik untuk anak cucu ke depan. Segala keindahan ini adalah salah satu bentuk yang harus diwariskan.

Manusia di arahkan untuk tidak merusak lingkungan, tidak membiarkan kerusakan dan ketidakterurusan ini kepada alam berlanjut. “Melalui Tumpek Pengarah ini mari kita wujudkan makna Tumpek yang sesungguhnya kepada seluruh masyarakat. Dengan melakukan program Nangun SatKerthi Loka Bali kita berarti memiliki andil dalam menjaga alam ini, sekaligus mengaplikasikan ajaran agama kita dengan baik,” pungkasnya. (Get)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.