Kampus Turun ke Desa Wisata: Unwar Bawa Kolaborasi Global ke Sakti Nusa Penida

IMG-20260225-WA0021

Klungkung,diaribali.com — Fakultas Pascasarjana Universitas Warmadewa (Unwar) kembali menegaskan peran kampus di luar ruang kelas. Lewat Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) internasional bertema “Integrated Collaboration Economic Management in Sakti Village, Nusa Penida–Klungkung”, Unwar menyasar persoalan mendasar desa wisata: kapasitas layanan publik di tengah lonjakan pariwisata.
PKM yang digelar di Desa Sakti, Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini menghadirkan perspektif global melalui narasumber dari Australia, Mrs. Dakota Hotham. Ia menekankan praktik ekowisata kolaboratif yang bertumpu pada komunikasi lintas budaya dan keberlanjutan—isu krusial bagi destinasi yang tumbuh cepat seperti Nusa Penida.
Rombongan Fakultas Pascasarjana Unwar diterima Sekretaris Desa Sakti, I Nyoman Darma, bersama jajaran pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, dan perwakilan mahasiswa. Hadir pula Dekan Fakultas Pascasarjana Unwar, Prof. Dr. Ni Luh Made Mahendrawati, S.H., M.Hum.
Dalam sambutannya, I Nyoman Darma mengapresiasi pilihan Desa Sakti sebagai lokasi PKM. Namun ia juga menyampaikan catatan kritis: keterbatasan kapasitas masyarakat dalam pelayanan publik terhadap wisatawan masih menjadi tantangan. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti seremonial, tetapi berkelanjutan,” ujarnya—sebuah penegasan bahwa desa wisata membutuhkan pendampingan jangka panjang, bukan intervensi sesaat.
Dari pihak kampus, Prof. Mahendrawati menyatakan PKM ini dirancang untuk memberi manfaat praktis, terutama peningkatan kualitas layanan wisata berbasis masyarakat. “Harapannya, dampak kecil tapi nyata—bagi Desa Sakti khususnya dan Nusa Penida pada umumnya,” katanya saat PKM yang berlangsung pada 20 hingga 21 Frbruari 2026.
Sesi materi berlangsung berlapis dan saling menguatkan. Mrs. Dakota Hotham membuka dengan “Collaborative Ecotourism in Practice: Communication, Culture, and Sustainability”. Tim Fakultas Pascasarjana kemudian memaparkan pengelolaan ekonomi kolaboratif desa, disusul presentasi mahasiswa bertajuk “Bali Must Not Become a Victim of Its Own Success”—sebuah kritik reflektif atas risiko overtourism jika tata kelola tak segera diperkuat.
Kegiatan ditutup dengan tirta yatra ke Pura Goa Giri Putri dan Pura Dalem Nusa Penida. Lebih dari ritual penutup, rangkaian ini menegaskan pesan utama PKM: pariwisata berkelanjutan menuntut keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan spiritualitas—serta kolaborasi nyata antara kampus dan desa. (Art)