Jatiluwih Tak Lagi Sekadar Sawah, Sport Tourism Jadi Magnet Baru Pariwisata Tabanan

IMG-20260622-WA0228

Tabanan,diaribali.com – Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih terus menunjukkan transformasi sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Tabanan. Tidak hanya mengandalkan panorama sawah terasering dan sistem Subak yang diakui UNESCO, Jatiluwih kini mulai memperkuat posisinya sebagai destinasi sport tourism melalui penyelenggaraan Bali Tourism Run 2026.

Ajang lari yang digelar dalam rangkaian Jatiluwih Festival VII itu diikuti sekitar 2.000 peserta dari  daerah di Indonesia dan sejumlah wisatawan mancanegara. Antusiasme tersebut menjadi sinyal bahwa wisata berbasis pengalaman semakin diminati wisatawan yang berkunjung ke Tabanan. Manajemen DTW Jatiluwih memang sengaja menjadikan Bali Tourism Run sebagai agenda utama festival tahun ini. Strategi tersebut dilakukan untuk menarik lebih banyak wisatawan domestik dan lokal yang selama ini jumlahnya masih relatif lebih kecil dibandingkan wisatawan mancanegara.

Melalui tema “The Journey Begins from Jatiluwih”, kawasan warisan budaya dunia itu tidak hanya menjadi lokasi perlombaan, tetapi juga titik awal pengembangan sport tourism Bali menuju peringatan 100 Tahun Pariwisata Bali pada 2027.
Rute lari sepanjang lima kilometer yang melintasi Telabah Gede, Kedamian, Umo Duwi hingga Monumen UNESCO memberikan pengalaman berbeda bagi peserta. Sepanjang lintasan, para pelari disuguhi hamparan sawah terasering dan lanskap Subak yang menjadi ikon Jatiluwih.

Pengembangan event berbasis olahraga dinilai menjadi langkah penting untuk memperluas segmentasi pasar wisatawan. Jika sebelumnya Jatiluwih dikenal sebagai destinasi menikmati panorama alam dan budaya, kini kawasan tersebut mulai menawarkan aktivitas wisata yang lebih interaktif dan berkelanjutan.
Dampak positif juga dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung mendorong peningkatan aktivitas UMKM, kuliner lokal, transportasi, serta tingkat hunian penginapan di sekitar kawasan wisata. Bahkan, perputaran ekonomi selama kegiatan diperkirakan mencapai lebih dari Rp 2 miliar.

Selain mendongkrak ekonomi lokal, penyelenggaraan event berskala nasional juga memperkuat citra Jatiluwih sebagai destinasi pariwisata berkualitas yang mengedepankan keseimbangan antara alam, budaya, dan masyarakat. Konsep tersebut sejalan dengan tema Jatiluwih Festival VII, yakni menjaga harmoni antara tradisi dan kelestarian lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Tabanan pun terus menyiapkan berbagai dukungan infrastruktur guna menunjang pertumbuhan kunjungan wisatawan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembangunan kantong parkir terpadu untuk mengatasi kepadatan kendaraan di kawasan wisata tersebut.

Dengan kombinasi keindahan alam, kekuatan budaya, dan pengembangan sport tourism, Jatiluwih kini tidak hanya menjadi ikon warisan dunia, tetapi juga wajah baru pariwisata Tabanan yang mampu menawarkan pengalaman wisata yang lebih lengkap. Ke depan, kawasan ini berpeluang menjadi model pengembangan destinasi berkelanjutan yang menggerakkan ekonomi masyarakat tanpa meninggalkan akar budaya lokal. (Art)