Zero Suicide Gandeng Dunia, Bali Perkuat Pencegahan Bunuh Diri
Konferensi Internasional Pencegahan Bunuh Diri Pertama di Indonesia di The Apurva Kempinski Bali, Nusa Dua, Selasa (13/10/2026).
Badung,diaribali.com —
Di tengah tren peningkatan angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia, Zero Suicide International bersama mitra lokal menggelar konferensi internasional pencegahan bunuh diri pertama di Indonesia di The Apurva Kempinski Bali, Nusa Dua, Selasa (13/10/2026).
Konferensi selama dua hari ini melibatkan delegasi dari lebih dari 25 negara dan diharapkan memperkuat kolaborasi global untuk menekan angka kematian akibat bunuh diri, khususnya di Bali.
Perwakilan Zero Suicide International, Brian Ahmedani, PhD, mengatakan konferensi ini bukan sekadar pertemuan, melainkan awal gerakan yang perlu diperluas melalui kerja sama pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan komunitas. Menurutnya, pencegahan bunuh diri bukan hanya sebuah kesempatan, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Brian menjelaskan, pendekatan Zero Suicide berlandaskan model berbasis bukti yang telah dikembangkan selama sekitar 25 tahun di Henry Ford Health, Amerika Serikat. Pendekatan ini kemudian dikembangkan melalui kemitraan internasional dengan menyesuaikan penerapannya terhadap budaya, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat setempat. Ia berharap Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara lain dalam membangun upaya pencegahan bunuh diri yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Sementara itu, dr. Imran Pambudi dari Kementerian Kesehatan RI menyoroti tren peningkatan angka kematian akibat bunuh diri berdasarkan data pelaporan kepolisian yang disampaikannya. Angka yang dipaparkan mencapai 1.350 kasus pada 2022, meningkat menjadi 1.445 kasus pada 2023 dan 1.509 kasus pada 2024. Data tersebut, menurutnya, menunjukkan perlunya perhatian serius terhadap persoalan kesehatan jiwa.
Imran juga menyebutkan bahwa program Cek Kesehatan Gratis telah mencakup skrining kesehatan jiwa terhadap sedikitnya 71 juta orang. Hasil skrining menunjukkan indikasi depresi dan kecemasan pada anak serta remaja perlu mendapat perhatian khusus.
Selain itu, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, ia menyebut hanya sekitar 13 persen orang yang teridentifikasi mengalami depresi mengakses layanan kesehatan.
Dari kalangan akademisi, Prof. Cokorda Bagus Jaya Lesmana dari Universitas Udayana menyambut positif penyelenggaraan konferensi yang mempertemukan peserta dari 25 negara tersebut.
Ia menilai pertemuan ini membuka peluang bagi Bali untuk memperkuat upaya pencegahan melalui perpaduan pengetahuan ilmiah internasional dengan tradisi dan budaya lokal.
Menurutnya, pencegahan bunuh diri tidak boleh hanya dilakukan setelah kasus terjadi. Upaya tersebut perlu menyentuh akar persoalan dan dilakukan sedini mungkin. Bali, kata dia, sebenarnya memiliki tradisi dan mekanisme sosial yang dapat menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat. Namun, perubahan zaman dan perkembangan masyarakat yang semakin global menuntut evaluasi terhadap pendekatan yang selama ini diterapkan.
Prof. Lesmana berharap konferensi ini tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi berlanjut menjadi kerja sama konkret dan berkesinambungan. Ia menilai kehadiran para peneliti dan mitra internasional di Bali menjadi kesempatan untuk mengembangkan strategi pencegahan yang lebih sesuai dengan tantangan masyarakat saat ini.
Melalui konferensi ini, Zero Suicide International bersama pemerintah, akademisi, dan mitra lokal diharapkan dapat membangun gerakan pencegahan bunuh diri yang lebih terintegrasi. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat deteksi dini, memperluas akses layanan kesehatan jiwa, serta mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia. (Art)