Warmadewa Dampingi UMKM Sading, Dorong Sektor Informal Naik Kelas Berbasis Tri Hita Karana

Pendampingan Pelaku Usaha Desa Sading oleh LPM Universitas Warmadewa.

Pendampingan Pelaku Usaha Desa Sading oleh LPM Universitas Warmadewa.

Badung,diaribali.com– Sektor informal masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bali. Selain menyerap banyak tenaga kerja, terutama perempuan dan masyarakat berpendidikan rendah, sektor ini juga menjadi penopang pendapatan rumah tangga sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Salah satu contohnya terlihat di Desa Sading, Kabupaten Badung. Desa ini dikenal memiliki banyak pelaku usaha sektor informal yang memproduksi aneka kue untuk kebutuhan upacara keagamaan, camilan tradisional, hingga perlengkapan dagang canang.
Namun, di balik potensinya, sebagian besar pelaku usaha masih menghadapi berbagai tantangan. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan banyak pelaku UMKM masih bertahan dengan pola pikir tradisional, merasa cukup dengan kondisi usaha saat ini, belum memanfaatkan pemasaran digital, serta mengalami kendala dalam mengakses permodalan.
Melihat kondisi tersebut, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Universitas Warmadewa melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) memberikan pendampingan bagi pelaku UMKM di Desa Sading sebagai upaya memperkuat daya saing usaha sekaligus mendorong keberlanjutan bisnis.
Ketua pelaksana PKM, Dr. Ni Wayan Sitiari, S.E., M.M., mengatakan pengembangan UMKM tidak cukup hanya mengejar keuntungan jangka pendek. Pelaku usaha juga perlu membangun bisnis yang mampu bertahan dan berkembang hingga generasi berikutnya.
Menurutnya, semangat kewirausahaan perlu dibangun tanpa meninggalkan identitas budaya lokal. Konsep Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, dinilai sangat relevan sebagai fondasi dalam mengembangkan usaha yang berkelanjutan.
“Nilai-nilai budaya Bali yang tercermin dalam konsep Tri Hita Karana sangat relevan diterapkan dalam pembangunan dan keberlanjutan bisnis,” ujar Dr. Sitiari dalam keterangan tertulis yang diterima, belum lama ini.
Sementara itu, Ni Ketut Sudarmini, S.E., M.Agb., menekankan pentingnya penerapan prinsip-prinsip manajemen agar pelaku UMKM mampu mengelola usaha secara lebih profesional, mulai dari perencanaan, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan pasar.
Di sisi lain, Ni Nyoman Rusmiathi, S.E., M.M., mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus disesuaikan dengan kemampuan sumber daya manusia dan kondisi finansial pelaku usaha. Dengan pendekatan yang tepat, digitalisasi diharapkan mampu memperluas pasar tanpa membebani UMKM.
Melalui pendampingan tersebut, Universitas Warmadewa berharap pelaku usaha sektor informal di Desa Sading tidak hanya mampu bertahan menghadapi persaingan, tetapi juga naik kelas menjadi UMKM yang adaptif, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya Bali. (Art)