UPMI Terjunkan Mahasiswa di Desa Kaba-Kaba, Tanggulangi Pendidikan Pascapandemi hingga Bangun Desa Wisata

Rektor UPMI Dr. I Made Suarta, SH., M.Hum., menyerahkan peserta KKN kepada Perbekel Kaba-Kaba di Aula Kampus setempat, Kamis (2/12).
Bagikan

DENPASAR-DIARIBALI.COM

Sektor pendidikan mengalami ‘guncangan’ hebat akibat badai pandemi Covid-19 yang menerjang hampir dua tahun lamanya. Peralihan dari pembelajaran tatap muka (PTM) ke pembelajaran dalam jaringan dikhawatirkan menurunkan kualitas pendidikan.

Syukurnya, seiring menurunnya level PPKM di Provinsi Bali, pemerintah mengizinkan PTM terbatas di semua satuan pendidikan. Menyikapi fenomena ini, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) yang dijuluki ‘kampus pencetak guru’ terpanggil memulihkan sektor pendidikan pascapandemi di Desa Kaba-kaba, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.

Pada program yang dikemas dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik ini, lebih dari 300 mahasiswa serta semua dosen UPMI bakal membantu juga pengembangan Desa Wisata Kaba-Kaba. Demikian dikatakan Ketua LP3M sekaligus Ketua Panitia KKN 2021 UPMI, Dr Wayan Widana di sela penyerahan peserta KKN kepada Perbekel Kaba-Kaba di Kampus UPMI, Denpasar, Kamis (2/12).

KKN yang mengusung tema “Penanggulangan Dampak Pandemi Covid-19 Dalam Bidang Pendidikan dan Teknologi” ini berlangsung satu bulan atau sampai pertengahan Januari 2022. Para Civitas UPMI akan melakukan berbagai kegiatan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dengan tujuan memperkecil dampak pandemi Covid-19 di desa ini.

Menurutnya, terdapat empat kegiatan pokok dalam KKN ini. Yakni pengembangan desa pendidikan, sosialisasi sampah 3R, pembinaan seni budaya dalam menyongsong desa wisata, dan pengembangan etnografi. “KKN berlangsung selama 32 hari dan dibagi dua. Yakni selama empat hari mengikuti pembekalan di kampus, dan 28 hari turun ke lapangan, serta diatur secara teknis sesuai dengan jadwalnya,” ujarnya.

Desa Kaba-Kaba dipilih sebagai lokasi KKN karena desa ini memiliki berbagai potensi. Seperti masyarakat yang merupakan kelompok seniman, aktivis, dan juga memiliki potensi kebersihan desa, serta berbagai aset-aset budaya leluhur, sehingga pihaknya bakal mengembangkan dalam bentuk etnografi. “Kami akan membukukan potensi yang dimiliki Desa Kaba-Kaba,” tandasnya.

Kepala Desa Kaba-Kaba AA Ngurah Anom diwakili Sekdes I Wayan Windia Yasa menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas dipilihnya memilih sebagai lokasi KKN UPMI. Dalam kesempatan itu, pihaknya juga mengingatkan agar para mahasiswa disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Mohon diperhatikan prokes karena kami, terutama di desa adat ketat sekali. Mohon dimaklumi. Selain itu, kami atas nama masyarakat desa juga menyampaikan terima kasih. Karena pihak UPMI sebelumnya sudah menyumbangkan sembako,” ujarnya.

Rektor UPMI, Dr. Made Suarta, SH., M.Hum., mengungkapkan, KKN merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang pengabdian kepada masyarakat, sesuai dengan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Lanjutnya KKN merupakan salah proses pematangan dan pendewasaan para mahasiswa. Karena mahasiswa akan menghadapi dan juga menyelesaikan masalah di desa ini. “KKN ini juga untuk melengkapi teori yang didapatkan di kampus yang akan diaplikasikan di Desa Kaba-Kaba,” ungkapnya.

Dalam arahan Suarta, para mahasiswa diminta agar bekerja sesuai dengan potensi yang dimiliki, dan mengembangkan kepribadian diri. Pihaknya juga berharap, apa yang dicanangkan dan diprogramkan dalam KKN kali ini dapat diterima di desa ini. “Ingat kerja cerdas, kerja tulus, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Jangan meninggalkan masalah, ingat konsep Tri Kaya Parisudha. Yakni berpikir, berkata, dan berbuat yang benar. Selain itu, bertindak juga harus sesuai dengan Tri Hita Karana,” pesan Suarta.

Ketua Yayasan Penyelenggara Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (YPLP PT) IKIP PGRI Bali IGB Arthanegara berharap, kehadiran mahasiswanya yang telah dibekali ilmu karakter memberi dampak positif bagi desa Kaba-Kaba. Sehingga setiap peserta wajib mengikuti KKN secara serius. “Apalagi tujuan kita memilihkan pendidikan pascapandemi. Ini tidak main-main. Butuh perjuangan serius dari semua pihak,” tegas dia. TUM/ZOR