Tumpek Wayang, Tradisi Paling Angker

I Dewa Ketut Wicaksana

“Tumpek Wayang diyakini oleh orang Bali bahwa seseorang yang dilahirkan pada wuku wayang patutlah diadakan upacara untuk terhindar dari malapetaka petunjuk ini dikuatkan berdasarkan lontar Japa Kala, Kala Purana, Sang Empu Leger, Wiswa Karma”.

DENPASAR- DiariBali

Sudah menjadi tradisi yang begitu kuat berakar pada budaya masyarakat Bali.
Tumpek wayang bermakna “Hari Kesenian”. Bagi penganut agama Hindu khususnya di Bali dipercaya sebagai hari penting bagi kesenian. Karena benda-benda atau hal-hal yang berkaitan dengan kesenian diupacarai sebagai ungkapan rasa terima kasih serta mohon kehadapan Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar kesenian itu senantiasa menyenangkan dan bertuah.

Tumpek Wayang identik dengan pertunjukan wayang Sapuh  Leger dipentaskan secara periodik, yaitu setiap enam bulan sekali atau 210 hari menurut kalender pawukon Bali, tepatnya pada hari wuku wayang.

Fenomena tersebut diyakini oleh orang Bali bahwa seseorang yang dilahirkan pada wuku wayang patutlah diadakan upacara lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan pada wuku wayang dimaksudkan supaya terhindar dari gangguan (buruan) Bhatara Kala.

Dalang Asal Nusa Penida,Klungkung I Dewa Ketut Wicaksana mengatakan keistimewaan Wayang Sapuh Leger dibedakan dengan jenis pertunjukan wayang yang lainnya, sehingga dikatakan paling angker dan paling berat baik bagi seorang dalang yang akan mementaskannya maupun bagi yang berkepentingan.

Menurutnya, penyampaian pesan secara simbolik melalui penyelenggaraan upacara lukatan dengan segala macam perlengkapannya, selamatan dan pergelaran wayang, seringkali sukar ditangkap secara rasional, sehingga kepekaan rasa sangat diperlukan untuk dapat memahami makna simbolik itu.

Hal tersebut karena ada hubunganya antara penyelenggaraan lukatan/ruwatan dengan bebasnya anak leteh (Jawa, sukerta) dari malapetaka.

Akan tetapi, mengapa Wayang Sapuh Leger yang konon dianggap angker dan penyelenggaraannya paling berat sehingga sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat Bali ? Hal ini sangat sedikit mendapat perhatian untuk membuktikan serta mencari jawaban atas penyebabnya. Kenyataan yang demikian itu pada umumnya hanya diterima begitu saja tanpa tergelitik menelusuri lebih jauh untuk menemukan apa yang terjadi di balik konsep penyelenggaraan drama ritual tersebut.

“Di Bali ada tiga macam pertunjukan wayang yang mendapat kedudukan istimewa diantara jenis wayang lainnya yakni, Wayang Sapuh Leger, Wayang Lemah, dan Wayang Sudamala, dianggap sakral karena memiliki persamaan fungsi yaitu ngruwat,” kata Dewa Wicaksana setahun menjabat Rektor di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) di tanah papua. Sabtu (7/8/2021).

Masih kata Wicaksana , ketiga wayang tersebut Wayang Sapuh Leger yang paling istimewa. Kenyataan tersebut didukung oleh ciri-ciri spesifik yang dimilikinya, yakni pertama menggunakan repertoar khusus yaitu Bhatara Kala, suatu mitos yang diyakini hidup dan sangat menakutkan serta berbahaya. Mitos ini  mengisahkan tentang kelahiran dan perjalanan Dewa Kala (anak Dewa Siwa) yang memangsa anak/orang yang lahir pada wuku/tumpek wayang.

Lanjut kedua, alat-alat perlengkapan dan sajen (banten) meliputi, pohon pisang (gedebong) berikut buah dan jantungnya (biu lalung) serta perlengkapan sarana wayang seperti layar (kelir), lampu (blencong), kotak wayang (kropak) semuanya dililit dengan benang tenun (tukelan) berisi pipis bolong (uang kepeng cina) 250 biji. Seluruh perangkat wayang dan dalang termasuk iringannya (gender) disediakan sesajen yang besar dan rumit.

Menariknya yang ketiga, hanya boleh digelar oleh seorang dalang yang telah disucikan (ki mangku dalang/sang mpu leger) dan memahami isi Lontar Dharma Pewayangan dan Lontar Sapuh Leger.

“Seorang dalang harus paham akan puja mantram sakralisasi diri dan sajen-sajen serta menguasai beberapa dewastawa yang ada hubungannya dengan pembuatan air suci (tirta panglukatan),” papar pria bertubuh gempal yang aktif di dunia pertunjukan tersebut.

Adapun yang mendasari tentang makna ritual ini yaitu tatwa berdasarkan teks- teks lontar yang merujuknya mulai dari lontar Japa Kala, Kala Purana, Sang Empu Leger, Wiswa Karma. Susila dimaksud manusia selalu diingatkan untuk beretika yang mulia dalam ajaran agama hindu disebut “Trikaya Parisuda”. Kedua filsafat tersebut dirangkum dalam ritual yaitu upakara dan upacara yang berdasarkan satyam, siwam dan sundaram.

Tumpek Wayang sebagai simbolis rasa syukur terhadap keberadaan kesenian khususnya wayang yang berarti ” Hyang” sebagai pemujaan Ida Sang Hyang Widhi , hal ini merupakan bukti betapa tinggi kesadaran nenek moyang kita akan pentingnya peranan kesenian baik dalam manusa yadnya, pitra yadnya dan dewa yadnya.

Untuk anak yang lahir pada wuku wayang haruskah ngupah wayang? menurutnya, ada cara yang sederhana dapat dilakukan dengan nuur tirta ke rumah jro dalang dengan banten yang sederhana mulai dari peras pejati, toya kungkuman dengan rasa tulus iklas.

“Wayang Sapuh Leger masih lestari sampai saat ini walaupun dalam era globalisasi ini yang berorientasi material. Eksistensi kebudayaan (wayang) ini tetap kokoh dan berkepribadian karena telah berakar pada sistem nilai budaya yang memberi isi kepada seni pertunjukan dan ritual, oleh karenanya menjadi simbol dari masyarakat Bali,” pungkas Wicaksana keturunan dalang tersebut. (Get)