Startup Mahasiswa Menembus Silicon Valley, Belajar dari Panggung Global

Pemenang TOP 3 Pertamuda Seed & Scale 2025 mengikuti Diskusi Panel di Startup Grind Global Conference 2026 di jantung Silicon Valley, Amerika Serikat.

Pemenang TOP 3 Pertamuda Seed & Scale 2025 mengikuti Diskusi Panel di Startup Grind Global Conference 2026 di jantung Silicon Valley, Amerika Serikat.

San Francisco,diaribali.com  —
Langkah anak muda Indonesia di dunia startup kian terasa nyata. Dari ruang-ruang kampus, mereka melangkah hingga ke Startup Grind Global Conference 2026 di jantung Silicon Valley, Amerika Serikat—sebuah ruang yang selama ini hanya akrab dalam mimpi dan layar presentasi.
Kesempatan itu datang bagi para pemenang TOP 3 Pertamuda Seed & Scale 2025. Mereka bukan sekadar hadir sebagai peserta, tetapi turut menyelami denyut ekosistem startup global: duduk di forum diskusi, mendengar pengalaman jatuh bangun para founder, hingga berbincang langsung dengan investor yang selama ini hanya mereka kenal dari berita.
Selama dua hari, ritme belajar terasa padat sekaligus menggugah. Dari panel ke panel, para mahasiswa ini mencoba memahami bagaimana ide sederhana bisa tumbuh menjadi solusi global dan bagaimana keberanian sering kali menjadi pembeda.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyebut partisipasi ini sebagai bagian dari upaya membuka jalan yang lebih luas bagi generasi muda.
“Forum seperti ini penting agar anak muda kita tidak hanya jago di dalam negeri, tetapi juga mampu membaca arah dan standar global,” ujarnya belum lama ini.
Bagi para peserta, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan luar negeri. Ia menjadi ruang belajar yang konkret—tentang bagaimana mempresentasikan ide dengan percaya diri, sekaligus menerima kritik dari perspektif yang lebih luas.
Deretan startup mahasiswa yang berangkat pun datang dari latar kampus dan bidang yang beragam: Drillytics dan Cargovision dari ITB, NauticalNurture dari Universitas Airlangga, Orionex dari UGM, Terangin dari ITS, Pe-Novtra dari PENS, Velaaris dari UI, hingga Hieren dari Universitas Jenderal Soedirman. Mereka membawa gagasan yang lahir dari persoalan sehari-hari di Indonesia.
Di sela agenda, percakapan-percakapan kecil justru menjadi momen yang paling membekas. Founder Velaaris, Marchell Manullang, mengaku pertemuan langsung dengan pelaku industri global mengubah cara pandangnya.
“Selama ini kami hanya membayangkan. Tapi ketika bertemu langsung, kami jadi tahu seperti apa standar yang harus kami kejar,” katanya.
Hal serupa dirasakan Alessandro Jusack Hasian dari Cargovision. Ia melihat forum ini sebagai cermin sekaligus peta jalan.
“Ada banyak insight yang kami dapat, terutama soal bagaimana membawa produk kami agar relevan di pasar internasional,” ujarnya.
Program Pertamuda yang digagas PT Pertamina (Persero) memang dirancang bukan hanya sebagai kompetisi. Ia menjadi ekosistem pembinaan—mulai dari pendampingan, akses jejaring, hingga membuka pintu ke panggung global.
Dalam lima tahun terakhir, program ini telah menjangkau lebih dari 14 ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret geliat generasi muda yang mulai berani mengambil peran sebagai pencipta solusi.
Keikutsertaan di forum global ini menjadi semacam titik temu: antara mimpi yang dibangun di kampus dengan realitas kompetisi dunia. Tidak semua langsung berhasil, tetapi pengalaman itu memberi bekal yang sulit digantikan.
Di tengah riuhnya inovasi global, para mahasiswa ini pulang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar jaringan. Mereka membawa perspektif baru—bahwa ide dari Indonesia bukan hanya layak didengar, tetapi juga berpeluang untuk tumbuh dan memberi dampak di panggung dunia. (Art)