Pengembangan Infrastruktur Berbasis Ekowisata di Desa Adat Sibetan, Sinergi Akademisi FTP Unwar dengan Masyarakat Lokal

IMG_20240827_164943

KARANGASEM, diaribali.com – Desa Adat Sibetan, Karangasem, tengah menjadi pusat perhatian dengan dilaksanakannya Program Kemitraan Masyarakat oleh Fakultas Teknik dan Perencanaan (FTP) Universitas Warmadewa (Unwar).

Program ini merupakan inisiatif strategis yang bertujuan untuk mengembangkan infrastruktur dan tata wilayah yang mendukung konsep ekowisata.
Melalui pendekatan yang kolaboratif, program ini tidak hanya mengedepankan pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, budaya, dan lingkungan.

Dalam program ini, berbagai kelompok pengabdian dibentuk dengan fokus pada beberapa proyek vital yang dianggap krusial untuk mendorong keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat Desa Sibetan.

Setiap proyek didesain dengan pendekatan yang holistik, mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kearifan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Salah satu proyek berfokus pada perencanaan dinding penahan tanah.

Proyek ini sangat penting mengingat topografi Desa Sibetan yang berbukit dan rawan longsor. Dinding penahan tanah yang dirancang dengan memperhitungkan faktor lingkungan ini akan memberikan perlindungan jangka panjang bagi area kuburan desa, yang sangat aktif digunakan dalam kegiatan keagaaman di Desa Sibetan.

Penilaian kondisi prasarana irigasi juga menjadi perhatian khusus dalam program ini. Sistem irigasi yang efektif dan efisien sangat penting untuk mendukung pertanian di Desa Sibetan, terutama dalam budidaya salak dan tanaman lainnya yang menjadi andalan ekonomi desa.

Dengan penilaian yang menyeluruh, tim pengabdian diharapkan dapat memberikan rekomendasi perbaikan dan optimalisasi sistem irigasi yang ada.
Program ini juga mencakup konservasi dan penataan mata air, yang merupakan sumber daya alam yang sangat berharga. Mata air di Desa Sibetan tidak hanya penting untuk kebutuhan domestik dan pertanian, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan budaya yang tinggi.

Konservasi mata air ini dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan, memastikan ketersediaannya bagi generasi mendatang. Dalam upaya mendukung produktivitas pertanian, dilakukan updating dan mapping luas sawah.
Proses ini bertujuan untuk memperbarui data mengenai luas lahan pertanian yang ada, sehingga dapat dilakukan perencanaan yang lebih tepat sasaran dalam pemanfaatan lahan dan pengembangan sektor pertanian di Desa Sibetan. Data ini juga penting dalam merancang strategi pengelolaan lahan yang mendukung ekowisata.

Perencanaan geometrik jalan menjadi aspek penting lainnya dalam program ini. Jalan yang dirancang dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kenyamanan, dan aksesibilitas akan mendukung pengembangan desa sebagai destinasi ekowisata salah satunya menuju ke Bukit Cemara.

Jalan yang baik tidak hanya mempermudah akses bagi wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat lokal dalam aktivitas sehari-hari.

Tidak kalah penting adalah proyek desain penataan Pura Pasek Gel Gel, Pura Keju, dan Pura Teben Dayang. Ketiga pura ini memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat Desa Sibetan. Dengan penataan yang tepat, pura-pura ini dapat menjadi daya tarik wisata spiritual yang unik, sekaligus menjaga kelestarian budaya dan tradisi setempat.

Perencanaan Pasar Desa mulai dari tahap titik lokasi penentuan site untuk pasar baru, desain skematik pasar dan skema rancangan struktur bangunan pasar.

Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) pasar desa dan konsep penataan Beji Telaga Tista juga merupakan bagian integral dari program ini. Pasar desa yang direncanakan akan menjadi pusat perekonomian lokal, tempat warga menjual hasil pertanian dan kerajinan mereka.

Sementara itu, Beji Telaga Tista dirancang sebagai destinasi wisata air yang menawarkan keindahan alam dan pengalaman spiritual. Beji Telaga Tista yang saat ini hanya digunakan oleh masyarakat setempat juga memiliki permasalahan kenyaman privasi yang kurang, sehingga diusulkan untuk penataan yang lebih baik dan mempertimbangkan aspek pengembangan wisata.

Secara keseluruhan, Program Kemitraan Masyarakat ini menunjukkan sinergi yang kuat antara akademisi dan masyarakat dalam menciptakan model pengembangan desa yang berbasis pada prinsip-prinsip ekowisata dan keberlanjutan.

Program Kemitraan Masyarakat ini mendapat respon yang sangat positif dari pihak Desa Sibetan. Dengan melibatkan berbagai kelompok pengabdian yang bekerja secara fokus dan kolaboratif, Desa Adat Sibetan diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memperkuat perekonomian lokal dan melestarikan warisan budaya yang ada.

Program ini menjadi contoh nyata bagaimana kerjasama antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan, sekaligus menjadi model bagi desa-desa lain yang ingin mengembangkan potensi ekowisatanya secara mandiri dan berkelanjutan.rl