Pengabdi ISI Denpasar Gandeng Sanggar Seni Bajra Suara Murti

KENDANG-Tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar memberikan pelatihan makendang tunggal di Sanggar Seni Bajra Suara Murti, Bebalang, Bangli.
Bagikan

BANGLI-DiariBali

Bangli merupakan salah satu Kabupaten di Bali yang memiliki potensi seni yang cukup kaya dan menjanjikan. Seni tari, musik, teater, drama, rupa, hidup subur di Kabupaten Bangli.

Potensi besar dari seni pertunjukan, khususnya seni karawitan di daerah ini terdapat puluhan barungan gamelan yang tersebar di empat kecamatan seperti: gong gede, gong kebyar, angklung klentangan, bebarongan, rindik, bebonangan, bebatelan, balaganjur dan beberapa barungan gamelan lainnya yang berkembang di masyarakat.

Keberadaan berbagai perangkat barungan gamelan di kabupaten berhawa sejuk ini belum diimbangi tersedianya tenaga instruktur/pembina atau pelatih seni karawitan yang memadai. Kebutuhan tersebut sangat mendesak bagi aktivitas sosial masyarakat beragama Hindu harus didukung oleh suara gamelan.

Masyarakat terpencil mengeluhkan sulitnya mendapatkan pembinaan seni. Sebuah komposisi gending kendang memiliki fungsi sebagai pemurba irama, perannya sangat dominan, seorang pembina dituntut mutlak untuk menguasai instrumen perkusif yang terbuat dari kulit tersebut.

Persoalan inilah yang melatarbelakangi tiga dosen dari Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yakni I Ketut Garwa, I Made Dwi Andika Putra, dan Saptono menggelar pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Makendang Gupekan dan Pepanggulan Tunggal Bagi Seniman Muda di Sanggar Seni Bajra Suara Murti Kabupaten Bangli”.

Garwa menjelaskan, terbatasnya penguasaan instrumen membutuhkan adanya pelatihan professional melalui peningkatan kemampuan instrumen kendang untuk gupekan dan kendang pepanggulan.

Hasil terlihat jelas Eksistensi para pangendang (tukang kendang) di Kabupaten Bangli bisa dipertahankan dengan cara melakukan pembinaan atau pelatihan bekerjasama dengan mitra yang dianggap relevan.

Mitra yang tepat adalah sebuah Sanggar Seni Bajra Suara Murti berlokasi di Banjar Tegal Bebalang Bangli. Rancangan realisasi pelatihan mengunakan metode eksperimen yang mengedepankan prinsip-prinsip keterbukaan, solidaritas, kebersamaan, saling menjaga, dengan menjunjung tinggi etika, logika dan estetika.

Situasi Pandemi COVID-19 dalam praktek para peserta diberikan pemahaman dan pengetahuan secara teoritis tentang cara-cara memainkan kendang gupekan dan kendang pepanggulan yang baik.
Peragaan teknik memaikan kendang dipilih model pangendang yang telah memiliki kemampuan memainkan kendang gupekan dan kendang pepanggulan terlebih dahulu.

“Hasilnya telah mampu memainkan dengan kendang untuk gupekan dan kendang pepanggulan secara bersama-sama berkualitas,” kata Garwa.

Ia menambahkan, Sanggar Seni Bajra Suara Murti belum diimbangi oleh tersedianya sumber daya manusia pembina seni karawitan yang memadai. Beberapa lulusan mahasiswa ISI Denpasar mau pun perguruan tinggi lainnya yang memiliki disiplin ilmu yang sama, belum memenuhi secara kualitas dan kuantitas akan kebutuhan pembina seni di masyarakat yang secara geografis sangat luas dengan berbagai hambatan dan tantangannya.

“Tantangan dimaksud terletak pada tata letak geografis masyarakat sesuai penyebarannya, faktor pendanaan, dan juga situasi Pandemi Covid-19 yang kini masih belum tentu kapan akan berakhir. Tiga faktor inilah yang mendasari pembinaan seni agar terus berjalan dan tidak mandeg.

Hal ini sangat dibutuhkan tenaga-tenaga edukasi yang mampu memberikan sentuhan-sentuhan pembinaan baik pada instansi pemerintahan maupun masyarakat secara luas untuk peningkatan penguasaan skil individu khususnya instrumen kendang gupekan maupun kendang pepanggulan tunggal,” jelasnya.

Pihaknya mendorong seniman muda Bangli untuk berani berkompetisi ke luar “kandang”. Sebab dalam pengamatannya, seniman muda di sanggar Seni Bajra Suara Murti masih belum aktif mengikuti berbagai lomba makendang baik kendang gupekan (tanpa alat pemukul) maupun kendang pepanggulan (memakai alat pemukul). Maraknya kom petisi dalam format lomba makendang tersebut memang menunjukkan tuntutan untuk dapat meningkatkan kegairahan bermain seni karawitan.

Pengabdian kepada masyarakat ini, bertujuan memberikan pelatihan melalui workshop dari instruktur, memberikan metode eksperimen sebagai pedoman dasar dalam implementasi pelatihan oleh ins-truktur, serta memberikan pelatihan secara kombinasi (off line-online) melalui media teknologi, informasi dan komunikasi (TIK).

Ia berharap, mitranya mampu memperagakan pola-pola dan motif-motif kendang gupekan dan kendang pepanggulan, menjadi contoh dalam memainkan kendang gupekan maupun kendang pepanggulan dan mampu menggunakan teknologi dalam proses pelatihan sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang.

“Berdasarkan uraian masalah, tujuan dan manfaat, maka solusi yang ditawarkan melalui kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PKM) ini dikategorikan berdasarkan pemecahan masalahnya meliputi: aspek pelatihan keterampilan,” tutup Garwa. TUM