BI Bali Sosialisasikan Cinta Bangga Paham Rupiah pada Guru Penggerak

Foto bersama usai pembukaan training of trainer Bank Indonesia Bali bersama Guru Penggerak, Sabtu (6/5/2023).
Bagikan

DENPASAR, diaribali.com – Guna meningkatkan pemahaman literasi terhadap rupiah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali mengadakan Training of Trainer Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah Kepada Guru Penggerak” Sabtu (6/5/2023) bertempat di Kantor BI Bali Jl. Letda Tantular No.4, Dangin Puri Klod, Denpasar.

Deputi Kepala KPw BI Bali, Gusti Agung Diah Utari menyampaikan, guru adalah ujung tombak yang berhadapan dengan anak didik dan masyarakat sehingga kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan mengenai rupiah kepada masyarakat.

“Oleh karenanya melalui kegiatan training ini kami mengajak bapak dan ibu sekalian ikut berperan serta dalam meningkatkan semangat nasionalisme kepada generasi muda khususnya anak didik, pewaris dan penerus perjuangan bangsa ini untuk mencintai uang rupiah kita dalam bentuk perluasan edukasi Cinta Bangga dan Paham Rupiah kepada sekolah-sekolah di wilayah Bali,” ujarnya.

Rupiah, lanjutnya, merupakan identitas dan simbol bangsa, yang tidak terpisahkan. Tidak hanya itu rupiah juga merupakan bagian dari perjalanan sejarah bangsa. Jauh sebelum Indonesia merdeka, telah banyak beragam mata uang yang digunakan oleh masyarakat.

Hingga akhirnya pada saat kemerdekaan Indonesia, Tepat pada tanggal 30 Oktober 1946 untuk pertama kalinya Indonesia menerbitkan uang sendiri melalui Oeang Republik Indonesia (ORI). Penggunaan mata uang tunggal yaitu rupiah meleburkan seluruh mata uang yang ada di Indonesia dan menggambarkan persatuan dan kedaulatan Indonesia.

Diah melanjutkan sebagai alat pemersatu bangsa, rupiah didesain untuk mewakili generasi bangsa dan seluruh wilayah Indonesia. Generasi bangsa tercermin dari gambar pahlawan dalam desain uang rupiah.

“Dari uang rupiah, kita juga bisa mengenal beragam seni dan budaya nusantara serta keindahan alam nusantara, termasuk Bali. Tenun grinsing menghiasi uang peringatan kemerdekaan pecahan Rp75.000 Tahun Emisi 2020 serta tari legong yang ada pada pecahan Rp. 50.000 tahun Elemisi 2022. Sebagai warga Bali, kita juga harus bangga karena Pura Ulundanu dan Danau Beratan pernah menghiasi uang rupiah kita pada pecahan Rp. 50.000 tahun emisi 2005,” tandasnya.

Berbicara mengenai rupiah, menurut Diah, terdapat fenomena di masyarakat dimana rupiah hanya dipandang sebagai instrument transaksi dan belum diimbangi dengan rasa Cinta, Bangga, Paham terhadap Rupiah. Terdapat indikasi bahwa masyarakat belum sepenuhnya memperlakukan uang Rupiah secara baik serta terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi rupiah.

“Perlakuan kita terhadap rupiah menentukan usia edar uang tersebut. Semakin kita berhati-hati dan menjaga dengan baik, uang rupiah akan bertahan lama, dan dapat dikenali ciri-ciri keasliannya. Dengan begitu, kita turut serta meminimalisir peredaran uang palsu yang merugikan Negara,”pungkasnya.

Diah melanjutkan, di era digitalisasi saat ini, transaksi menggunakan rupiah tidak hanya dapat dilakukan secara tunai, namun juga secara non-tunai dan salah satunya pembayaran dengan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“QRIS merupakan standarisasi QR Code pembayaran di Indonesia dan menjadi solusi bertransaksi secara CeMuMuAH (Cepat, Mudah, Murah, Aman dan Handal) karena dapat dilakukan melalui handphone tanpa kontafisik, kapanpun dan dimanapun tanpa tatap muka. Astungkara, QRIS sebagai opsi pembayaran yang CeMuMuAH,” pungkas Diah.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Drs. Anak Agung Gede Wiratama, M.Ag, mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan BI Bali yang berkolaborasi dengan Komunitas Guru Penggerak dalam memberikan sosialiasi agar generasi muda, peserta didik dan masyrakat dapat memahami rupiah lebih jauh.

“Untuk anak-anak kita di tingkat SD, SMP mereka paham cinta bangga rupiah, maka sampai besar akan bangga. Ini bukan berati mata uang kita tidak bagus. Dan ini
perlu disosialisasikan kepada anak-anak, dengan adanya guru penggerak sebagai fasilitator diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang cinta rupiah,” ujarnya. Zor