Tari Khas Jawa Dipentaskan pada PKB 2022

PERTUNJUKAN tari khas Jawa oleh Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta pada PKB 2022.
Bagikan

DENPASAR, diaribali.com-Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta (AKNSBY), Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyulap panggung Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Selasa (21/6) malam.

Ribuan pasang mata seolah tak percaya bahwa mereka saat itu berada di Kota Denpasar, Bali. AKNSBY sukses ‘memindahkan’ Yogyakarta ke Bali dengan suguhan kesenian Jawa dan Keraton yang kental. DIY tercatat sebagai partisipan luar daerah yang tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022. Sebelumnya, penampilan seniman Kabupaten Indramayu juga membuat PKB tahun ini makin variatif.

Direktur Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta, Dr. Supadma M.Hum mengaku, pihaknya memang sangat berharap bisa tampil di event tahunan PKB ini. Untuk tampil maksimal, pihaknya melibatkan tim dari tiga program studi (prodi), yakni prodi karawitan, tari, dan kriya kulit dengan latihan dan persiapan yang cukup matang selama 2,5 bulan.

“Keikutsertaan kami bisa dibilang sebagai unjuk kebolehan, di samping sebagai sebuah pameran dari kami sebagai hasil dari pembelajaran. Karena kami, Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya Yogyakarta ini mengelola D1 pendidikan vokasi yang berorietasi mengarah pada keterampilan,” ujarnya.

Ada lima pertunjukan yang ditampilkan. Pertama, Tari Golek Ayun-Ayun yang merupakan tarian gaya klasik Yogyakarta ciptaan Alm KRT Sasmitadipura (Romo Sas). Tarian ini menggambarkan seorang gadis remaja menginjak dewasa yang suka bersolek, berhias diri dengan motif-motif gerakan tari putri dan diiringi gendhing Ladrang Ayun-ayun.

Sedangkan penampilan kedua mempertunjukkan Wayang Topeng Sekartaji Kembar yang berkisah tentang penculikan Dewi Sekartaji oleh mahluk Raseksi duta Prabu Kelana Sewandono. Penampilan ketiga yakni Beksan Bandabaya menggambarkan para prajurit sedang berlatih mengolah senjata berupa pedang dan tameng. Tarian ini diciptakan pada masa pemerintahan K.G.P.A.A. Paku Alam II.

Beralih ke pertunjukan keempat yakni Gending Rujak Jeruk yang merupakan salah satu Gending dalam Karawitan Jawa berbentuk Ladrang dengan laras Slendro patet Manyura. Gending ini sangat familier di dalam sajian konser karawitan mandiri maupun sajian karawitan pakeliran/pewayangan. Terakhir, ditampilkan Tari Jarengguk yang merupakan jenis tarian atau kesenian kerakyatan, dengan “revitalisasi” dari kombinasi 3 tarian yakni  Jathilan, Reog, dan Angguk.

Terkait pelestarian kebudayaan, Supadma menjelaskan, sesungguhnya Yogyakarta hampir mirip dengan Bali yang masih kuat melestarikan kebudayaan daerahnya. Karena itu, dengan diberikannya kesempatan tampil di PKB, pihaknya sangat bersyukur bisa mengenalkan kesenian Yogyakarta kepada masyarakat Bali. “Kami berterima kasih kepada Bapak Gubernur Bali dan Bapak Kepala Dinas Kebudayaan, di mana kami terus berkomunikasi secara intens sehingga bisa tampil malam ini,” kata dia. TUM