Smara Atangi Bernyanyi, Gamelan Tua Pun Menari

WhatsApp Image 2025-09-01 at 21.23.44 (2)
Sekaa Selonding Smara Atangi

Karangasem,diaribali.com –
Dari sebuah keinginan yang tak terbendung untuk melestarikan warisan budaya Bali, lahirlah sebuah sekaa (kelompok seni) yang kini dikenal luas hingga lintas generasi. Sekaa Selonding Smara Atangi, yang berakar di Desa Antiga, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, menjadi cahaya di tengah pandemi, sekaligus bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.

 

Cikal bakal terbentuknya sekaa ini bermula pada tahun 2021, saat pandemi COVID-19 membatasi aktivitas masyarakat, termasuk siswa yang harus belajar secara daring. Dalam kondisi tersebut, I Gede Sweta Getas, S.Pd., seorang guru Bahasa Bali berprestasi yang mengajar di Denpasar, tergerak hatinya untuk mengisi waktu luang anak-anak desa dengan aktivitas yang produktif.

 

Tujuannya sederhana namun berdampak besar menjauhkan mereka dari ketergantungan gadget dan mengenalkan seni budaya Bali yang mulai asing di mata generasi muda yakni gamelan Selonding.

 

Meski belum pernah menyentuh gamelan jenis ini sebelumnya, para anggota yang sebagian besar adalah anak-anak sekolah dasar hingga dewasa, belajar dengan tekun hanya bermodalkan kemauan kuat dan semangat membara.

Gamelan Selonding, yang berlaras slendro dan tergolong sebagai gamelan agung atau kuno, menjadi tantangan tersendiri. Namun, dari keterbatasan dan perjuangan yang penuh liku, satu per satu tabuh mulai dimainkan, mengalir bagaikan air sungai yang deras.

 

Kiprah mereka tidak berhenti di lingkungan internal. Sekaa ini perlahan dikenal masyarakat luas dan mulai diundang untuk mengiringi berbagai upacara adat besar, seperti Karya Agung, Ngeroras, Rsi Gana, hingga Piodalan di berbagai pura.

 

Penerimaan masyarakat Desa Antiga terhadap gamelan Selonding, yang sebelumnya dianggap asing, menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya bisa hidup kembali bila ditumbuhkan dari akar rumput.

Kini, dengan 10 anggota aktif yang rutin berlatih setiap Sabtu dan Minggu, Sekaa Smara Atangi tak hanya menjadi tempat belajar seni, tetapi juga wadah untuk membangun disiplin, tanggung jawab, dan solidaritas sosial. Mereka aktif ngayah (berkarya sukarela) di pura-pura besar seperti Pura Besakih, Hulun Danu, Penataran Sasih Pejeng, dan pura-pura desa lainnya.

 

Menariknya, dari semangat menjaga Selonding, kreativitas anak-anak muda di sekaa ini juga melahirkan eksplorasi pada instrumen klasik lainnya, seperti Gender Wayang, yang memperkaya ragam seni di desa.

 

“Kami konsen pada gamelan klasik atau kuno. Kami terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar, tanpa dipungut biaya. Ini bagian dari upaya kami menjaga agar gamelan klasik tidak punah dan tetap menggema,” ungkap Getas.

 

Di bawah kepemimpinannya, Sekaa Smara Atangi tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menyemai harapan. Harapan bahwa budaya tak akan pernah lekang, selama ada generasi yang siap belajar dan meneruskan. (Art)