IMG-20251106-WA0160
I Nengah Suraba

Manggis,diaribali-
Di halaman rumahnya di Banjar Kaler, Desa Antiga, Kec. manggis, Karangasem, suara mesin berputar pelan terdengar nyaring di antara tumpukan besi bekas. Di ruang terbuka berukuran kurang dari dua kali tiga meter itu, I Nengah Sutaba (65) tampak sibuk membenahi gulungan dinamo pompa air bekas. Di tangannya, potongan logam dan kabel rongsokan disulap menjadi alat baru yang berguna.

Pensiunan pegawai Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (Perkim-LH) Kabupaten Karangasem itu memilih masa pensiunnya untuk terus berkarya. Ia tak ingin hari tuanya diisi dengan berdiam diri. “Kalau tidak berkreativitas, pikiran bisa buntu dan cepat pikun,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari bengkel mininya itulah lahir beragam karya hasil inovasinya. Salah satunya mesin cooper penggiling daging dan bumbu yang ia buat dari mesin pompa air bekas. Mesin itu dirakit dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga mampu menggiling antara 50 hingga 100 kilogram bahan. “Kalau ada yang rusak, saya perbaiki sendiri. Gulungan dinamo, pisau, atau bagian lain saya bongkar dan pasang lagi,” tutur pria  berambut uban.

Pesanan datang dari berbagai daerah, mulai Denpasar, Badung, Tabanan, hingga Buleleng. Menurut Sutaba, produk buatannya punya keunggulan dibanding mesin sejenis: bentuknya ringkas, efisien, tak memakan banyak tempat, dan tidak menimbulkan suara bising. “Yang penting sederhana tapi fungsional,” katanya.

Selain mesin penggiling, Sutaba juga merancang alat pemanggang sate dan ayam multifungsi. Panggangan itu dibuat dalam berbagai ukuran—50 sentimeter, 80 sentimeter, hingga satu meter—dan dilengkapi dengan sistem pengatur bara api yang bisa dinaik-turunkan tanpa harus mengangkat panggangan. “Idenya mengalir begitu saja,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Untuk satu unit mesin cooper, Sutaba membutuhkan waktu sekitar dua setengah hari. Jika mesin pompa sudah siap pakai, ia tinggal merancang rangka dan desain sesuai pesanan. Harganya pun bervariasi. Mesin berkapasitas 100 kilogram dengan tenaga 700 watt dibanderol Rp950 ribu, sementara kapasitas 50 kilogram seharga Rp650 ribu. “Kalau pembeli bawa mesin sendiri, saya hanya bantu merakit. Jadi biayanya lebih murah,” katanya.

Keterampilannya merakit mesin bukan datang begitu saja. Saat masih bersekolah di SMKI jurusan tari—kini dikenal sebagai Kokar—Sutaba juga menempuh pendidikan di STM Nasional jurusan mesin umum. Dari sanalah dasar pengetahuannya tentang permesinan tumbuh. “Dulu belajar tari, tapi di sisi lain saya suka membongkar mesin. Sekarang dua-duanya jadi bagian hidup saya,” ujarnya.

Kini, bengkel kecil di halaman rumahnya ia sebut sebagai “laboratorium pribadi”. Dari tempat itu pula lahir berbagai alat rumah tangga sederhana seperti troli, rangka kanopi, hingga tenda. Semua dibuat berdasarkan kebutuhan sehari-hari. “Kalau ada yang rusak atau butuh alat baru, saya buat sendiri. Sekalian mengasah otak,” ujarnya.

Bagi Sutaba, masa pensiun bukanlah akhir produktivitas. Justru di usia senja, ia merasa lebih bebas menyalurkan ide-ide yang dulu tertunda. “Kalau mau kreatif dan inovatif, apa saja bisa jadi uang,” katanya. “Yang penting kerja keras dan tidak cepat menyerah,” imbuhnya.

Sutaba percaya, selama tangan masih bisa bergerak dan pikiran tetap jernih, selalu ada peluang untuk berkarya. Di bengkel kecil itu, di antara suara gerinda dan percikan api las, ia terus membuktikan bahwa semangat tidak pernah pensiun. (Art)