Pecah Telur, Pria Ini Jadi Doktor Pertama di Desanya Saat Usia 60 Tahun

Dr. Drs. I Nengah Suriata, SH., MH.
Bagikan

DENPASAR-DiariBali

Raganya tak lagi muda. Sejumlah giginya telah tanggal disertai kulit yang mulai mengeriput. Tapi soal semangat, Dr. Drs. I Nengah Suriata, SH., MH., mengaku masih berusia 37 tahun.

Pria asal sebuah desa yang cukup besar di Kabupaten Karangasem, Kecamatan Manggis, tepatnya Desa Antiga ini baru saja menyabet gelar Doktor Ilmu Hukum, pada Fakultas Hukum, Universitas Udayana (Unud) belum lama ini.

Ujian terbuka promosi doktor berlangsung awal Januari 2022. Suriata berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Pengawasan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat Dalam Rangka Pemerataan Kesejahteraan Rakyat di Daerah”.

Dokumentasi usai ujian terbuka promosi doktor

Suriata termasuk salah satu putra terbaik di desa yang belakangan dimekarkan menjadi dua dinas: Antiga dan Antiga Kelod. Ini dibuktikan dengan rekam jejaknya yang pernah menjabat kepala desa atau perbekel tahun 1993 hingga 2022, sebelum pemekaran.

Tak kalah membanggakan, Suriata juga tercatat sebagai alumni Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) Lemhanas RI tahun 2016. Pascamenunaikan tugas sebagai pimpinan desa, ia fokus melanjutkan studi.

“Motivasi saya ingin terus belajar, mengabdikan diri kepada masyarakat. Pada prinsipnya, saya ingin jadi orang yang berguna,” kata Suriata, ditemui di kediamannya, Jalan Puputan Baru, Denpasar, Rabu 12 Januari 2022.

Berangkat dari niat yang kuat, dia mengaku tidak menemui kendala berarti selama menempuh studi, khususnya di strata tiga, termasuk kendala dalam publikasi di jurnal internasional. Padahal, ini adalah persoalan klasik yang dikeluhkan mahasiswa strata tiga.

Salah satu kuncinya, lanjut Suriata, dengan memanfaatkan jaringan pertemanan dengan dosen-dosen lain dari perguruan tinggi seluruh Indonesia dan luar negeri.

Pria kelahiran 22 Juni 1962 ini aktif sebagai pengajar (dosen) di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stispol) Wira Bhakti, Denpasar. Tekadnya membulat ingin tancap gas hingga ke guru besar atau profesor.

Baginya, tidak ada hal yang mustahil di dunia ini. Apalagi seorang dosen, pasti ingin sampai pada puncak karir akademik tertinggi. “Siapapun dosen di seluruh dunia ini outputnya pasti ingin jadi guru besar. Saya tetap menjaga optimisme. Gak boleh nyerah,” pungkas Suriata. (BUD)