Pasar Rakyat Go Digital: Tradisi Tersambung, Ekonomi Terangkat

IMG-20251204-WA0016
Pasar Rakyat Go Digital Bali.

Denpasar,diaribali.com
Bank Indonesia Provinsi Bali mendorong digitalisasi pasar tradisional lewat program Pasar Rakyat Bali Go Digital, yang mencapai puncak pelaksanaan pada 1 Desember 2025. Program ini menghubungkan penyedia jasa pembayaran (PJP) dengan pasar-pasar yang berada dalam ekosistem SiGapura, yaitu pusat pembentukan harga komoditas harian yang sangat berpengaruh terhadap inflasi daerah.

Kepala Perwakilan BI Bali, Erwin Soeriadimadja, menyebut program ini sebagai “jembatan dua dunia” tradisi pasar rakyat dan teknologi pembayaran digital. Menurut dia, digitalisasi transaksi mampu menekan biaya, meningkatkan efisiensi, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi daerah. “Pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,88% pada triwulan III-2025 tidak lepas dari masifnya digitalisasi, termasuk peran QRIS,” ujarnya.

Indikator digitalisasi itu terlihat dari tingginya aktivitas QRIS. Hingga Oktober 2025, tercatat 134 juta transaksi dengan nilai Rp19 triliun. Adapun jumlah merchant telah mencapai 1 juta, dengan pengguna 1,1 juta orang. BI menilai capaian ini sebagai bukti transformasi digital yang sudah menembus sendi ekonomi rakyat, termasuk pasar tradisional.

Dalam final presentasi program, lima PJP—Bank Mandiri, BCA, BNI, BRI, dan BPD Bali—memaparkan strategi yang mereka jalankan untuk memperluas adopsi pembayaran digital. Mulai edukasi pedagang, integrasi retribusi, pembayaran parkir, hingga skema transaksi harian berbasis QRIS. Berbagai pendekatan kreatif turut digunakan, seperti kolaborasi dengan desa adat, influencer lokal, hingga penyelenggaraan shopping race.

Di banyak pasar, pedagang yang sebelumnya bergantung pada transaksi tunai kini mulai terbiasa menerima pembayaran digital. Ini mempermudah pencatatan omzet sekaligus memperkecil risiko uang palsu. Sementara bagi konsumen, transaksi menjadi lebih cepat, transparan, dan higienis—faktor yang kian relevan dalam pola belanja masyarakat modern.

Selain mendorong digitalisasi, BI juga meminta PJP memperluas penyaluran kredit produktif kepada pelaku UMKM yang aktif di pasar tradisional. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat kapasitas usaha, meningkatkan kualitas produk, dan memperlebar akses pasar di tengah kompetisi ekonomi digital yang semakin terbuka.

Sejumlah PJP memperoleh penghargaan pada Pertemuan Tahunan BI Bali 2025, 2 Desember lalu. BPD Bali meraih predikat paling aktif dalam literasi keuangan dan digitalisasi, sementara BNI terpilih sebagai presenter terbaik program. Bank Mandiri memimpin kategori digitalisasi transaksi, disusul BCA sebagai runner-up. Adapun BRI dinobatkan sebagai PJP paling aktif memberikan akses pembiayaan.

Penghargaan ini, menurut BI, bukan semata apresiasi tetapi juga pemicu kompetisi sehat di antara perbankan untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital di Bali. Tantangan ke depan adalah memastikan perubahan perilaku ini bertahan dan meluas, terutama di pasar-pasar yang menjadi acuan pergerakan harga pangan utama.

Kolaborasi BI, OJK, pemerintah daerah, dan industri pembayaran diharapkan mampu mempercepat adopsi digital secara merata. Digitalisasi pasar rakyat bukan hanya memperluas inklusi keuangan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekosistem perdagangan lokal—fondasi penting untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi Bali yang lebih berkelanjutan.

Dengan transformasi ini, pasar rakyat tak lagi sekadar ruang transaksi tradisional, tetapi juga simpul ekonomi modern yang mampu menyerap teknologi tanpa kehilangan identitas budayanya. Bali, sekali lagi, menunjukkan bahwa inovasi bisa berjalan harmonis dengan akar tradisi. (Art)