Optimisme Konsumen Bali Tertahan Hujan dan Normalisasi Konsumsi

ErwinSoer_01 BI Bali 2025
Erwin Soeriadimadja

Denpasar,diaribali.com —
Optimisme konsumen di Bali pada Desember 2025 tercatat melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan tinggi, serta normalisasi konsumsi pasca Hari Raya Galungan dan Kuningan, menjadi faktor utama penahan laju keyakinan konsumen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja,  merilis, pada Kamis (15/1/2026), hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 berada di level 139,42, turun 1,5 persen secara bulanan (month to month/mtm). Meski melemah, IKK masih berada pada zona optimistis karena berada di atas level 100.
Optimisme konsumen terutama ditopang oleh kelompok usia 20–30 tahun dengan indeks 150,5 dan kelompok usia 41–50 tahun sebesar 147,0. Sementara itu, kelompok usia 31–40 tahun mencatat indeks 130,2, usia 51–60 tahun sebesar 127,4, dan kelompok usia di atas 60 tahun sebesar 110,4. “Dari sisi lapangan pekerjaan, optimisme tercermin baik pada pekerja sektor formal dengan indeks 144,6 maupun sektor informal sebesar 133,7,” sambungnya.
Perlambatan IKK terutama berasal dari melemahnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang turun dari 152,3 menjadi 147,8 atau melemah 3,0 persen (mtm). Penurunan ini dipengaruhi oleh menurunnya indeks prakiraan penghasilan enam bulan ke depan yang tercatat turun 6,7 persen (mtm) menjadi 152,5, serta prakiraan ketersediaan lapangan kerja yang melemah 4,6 persen (mtm) menjadi 144,5.
Selain itu, masih kata Erwin, menurut responden, cuaca ekstrem pada Desember 2025 berdampak langsung pada pendapatan, terutama bagi pelaku usaha mikro. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat frekuensi hujan lebat ekstrem di Bali meningkat sekitar 20 persen secara bulanan. Selain itu, konsumsi masyarakat juga mengalami normalisasi setelah lonjakan belanja pada perayaan Galungan dan Kuningan yang berlangsung pada November 2025.
Meski demikian, optimisme konsumen masih terjaga. Indeks prakiraan kegiatan usaha enam bulan ke depan justru meningkat 3,2 persen (mtm) menjadi 146,5. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) juga naik tipis dari 130,8 menjadi 131,0. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya konsumsi barang kebutuhan tahan lama, yang naik 2,6 persen (mtm) menjadi 117,0.
Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya menjaga stabilitas harga, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru. Upaya tersebut dilakukan melalui operasi pasar murah, pengawasan harga pangan utama, serta penguatan koordinasi distribusi.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Bali pada Desember 2025 sebesar 2,91 persen (year on year), masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen. Inflasi yang terkendali dinilai mampu menopang konsumsi rumah tangga dan aktivitas perekonomian daerah.
Di tingkat nasional, Bank Indonesia pada 16–17 Desember 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan Lending Facility sebesar 5,50 persen. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan kebijakan pengurangan pokok Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) mulai 5 Januari 2026 guna mendorong konsumsi masyarakat.
Berbagai kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Bali di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. (Art)