Nyenuk Ngingkup Agung, Merawat Tradisi dan Jejak Sejarah Manukaya Let

Peed Nyenuk Ngingkup Agung Desa Adat Manukaya Let.

Peed Nyenuk Ngingkup Agung Desa Adat Manukaya Let.

Gianyar,diaribali.com—
Ribuan krama Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, berjalan kaki dalam prosesi Nyenuk Ngingkup Agung, Sabtu (3/10/2026). Di bawah terik matahari, iring-iringan bergerak sekitar 700 meter menuju kawasan pura dalam suasana khidmat dan sarat nuansa religius.

Nyenuk Ngingkup Agung menjadi bagian dari rangkaian Karya Agung Desa Adat Manukaya Let. Rangkaian karya tersebut meliputi Tawur Labuh Gentuh, Mupuk Pedagingan, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, serta Pujawali di Pura Agung dan Pura Tirta Empul.

Peed tidak sekadar menjadi perjalanan menuju tempat suci. Di sepanjang iring-iringan, berbagai kesenian dan tradisi khas Manukaya Let turut dihadirkan. Ribuan krama mengikuti prosesi dengan berjalan kaki, membawa sarana upacara dan persembahan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tokoh masyarakat Desa Manukaya Let yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, mengatakan Karya Agung tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan kewajiban religius sekaligus menghidupkan kembali tradisi yang selama ini belum banyak direvitalisasi.

“Selain melaksanakan rasa syukur kepada Ida Bhatara, kami sekaligus mengambil hikmah untuk menggali dan merawat kembali nilai-nilai tradisi yang ada,” ujar Adi Parbawa.

Menurut dia, Tampaksiring memiliki posisi penting dalam perjalanan peradaban dan kebudayaan Bali. Kawasan tersebut memiliki keterkaitan dengan sejarah kerajaan di Bali sehingga berbagai ritus dan warisan budaya yang masih hidup di masyarakat perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Nilai tersebut tampak dalam prosesi Nyenuk Ngingkup. Masyarakat menampilkan sejumlah tradisi, antara lain Rejang, Baris Gede, Rejang Let, gebogan, demung-demung tameng, premas, tapak hidup Bhatara, dan tetangguran. Sekitar 2.000 orang terlibat dalam penampilan dan kegiatan kesenian. Jika seluruh unsur masyarakat dan pendukung karya dihitung, jumlahnya mencapai sekitar 15.000 orang.

Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, menjelaskan Nyenuk Ngingkup secara filosofis menggambarkan kedatangan para undangan dari empat penjuru mata angin untuk berkumpul di kawasan pura. Pertemuan tersebut dimaknai sebagai bagian dari persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Prosesi itu melibatkan tiga banjar sebagai pengempon, yakni Banjar Tatak, Banjar Bantas, dan Banjar Manukaya Let. Selain itu, terdapat empat banjar pengemong, yakni Desa Balet, Penempan, Calo, dan Tegal Payang.

Bagi masyarakat Manukaya Let, pelaksanaan Nyenuk Ngingkup kali ini memiliki arti khusus karena untuk pertama kalinya prosesi tersebut dilaksanakan di desa adat setempat. Karena itu, masyarakat bersepakat menjaga keberlanjutannya agar tradisi tersebut tidak berhenti sebagai sebuah peristiwa seremonial.

Mawi mengatakan pelaksanaan karya juga mengedepankan ketulusan dan gotong royong. Berbagai sarana upacara dan persembahan dibuat sendiri oleh warga. Proses tersebut menjadi ruang untuk mempertahankan keterampilan tradisional sekaligus mempertemukan kembali masyarakat dalam kerja bersama.

Jejak tradisi itu juga memiliki kaitan dengan sejarah kawasan. Mawi menyebut prasasti berupa batu bertulis di Pura Sakenan mencatat keberadaan kawasan Tirta Empul yang berkaitan dengan masa pemerintahan Sri Candrabaya Singha Warmadewa sekitar 962 Masehi.

Bagi masyarakat Manukaya Let, jejak tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah karya keagamaan tidak hanya berbicara tentang pelaksanaan ritual. Di dalamnya terdapat ingatan sejarah, seni, keterampilan, gotong royong, dan hubungan antargenerasi yang terus dirawat.

Di tengah perubahan zaman, Nyenuk Ngingkup Agung akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini. Ribuan krama berjalan dalam satu iring-iringan, membawa tradisi yang diwariskan leluhur sekaligus meneguhkan kembali kebersamaan sebagai bagian dari kehidupan religius masyarakat Bali. (Art)