Mesin Komposter Harapan Baru Atasi Sampah Organik di Bali

IMG-20250916-WA0223
Pendiri Shiva Industries Indonesia, Tobias Wilson (tengah) saat menerima kehadiran Duta Sampah Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster.

Denpasar,diaribali.com
Penamganan sampah di Bali masih perlu perhatian serius. Apalagi semenjak ditutupnya pembuangan  sampah ke TPA suwung untuk sampak organik mulai bulan Agustus lalu,  Pemerintah kabupaten/kota harus mencari solusi lain dalam penanganan sampah.

Gayung bersambut, kabar menggembirakan telah hadir solusi penanganan sampah organik di tengah Kota Denpasar. Adalah  perusahaan yang dikenal sebagai produsen on-site rapid composter, yaitu mesin pengolah sampah organik yang mampu mengubah limbah dapur dan sampah organik lainnya menjadi kompos dalam waktu 24 jam.

Shiva Industries Indonesia bermarkas di Jalan Bung Tomo, Denpasar. Mesin ini sangat membantu karena bisa mengolah sampah organik dalam jumlah besar, mulai dari 300 kilogram per hari. Sangat cocok untuk hotel, restoran, dan TPS3R.

Mesin komposter produksi Shiva Industries ini tersedia dalam berbagai kapasitas, mulai dari 300–500 kilogram hingga 1,5 ton sampah organik per hari. Harga satu unit mesin sekitar Rp 400 juta.

Pendiri Shiva Industries Indonesia, Tobias Wilson, yang hadir bersama mitranya, Ketut Punia, menekankan bahwa teknologi ini dirancang untuk menjawab masalah mendesak di Bali.

“Sampah organik mencapai 72 persen dari total sampah di Bali. Kami ingin membantu dengan teknologi yang murah dan ramah lingkungan. Prinsip kami, dari Bali untuk Bali. Kami juga berkomitmen untuk gerakan komunitas demi Bali bebas TPA,” ujarnya.

Teknologi pengolahan ini menggunakan sistem digester aerobik yang tidak menghasilkan emisi serta membutuhkan perawatan minimal. Hasil olahan berupa kompos berkualitas premium dapat langsung digunakan untuk pertanian organik maupun penghijauan kota.

Dengan hadirnya inovasi ini, diharapkan Bali semakin cepat mewujudkan visi pengelolaan sampah berbasis sumber sekaligus mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini menjadi masalah kronis.

Ketua TP PKK Provinsi Bali sekaligus Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Padas,  Putri Suastini Koster saat mengunjungi Shiva Industries Indonesia, Selasa (16/9),  menegaskan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menangani sampah. Menurutnya, tidak ada lagi istilah membuang sampah, melainkan mengelola sampah agar kembali memberi manfaat bagi alam.

Menurutnya, jika setiap TPS3R memiliki satu mesin seperti ini, maka masalah sampah organik bisa diselesaikan di tingkat komunitas atau desa.

“Jangan lagi dititipkan ke Suwung, semua bisa selesai di sini. Dari alam, kembali ke alam,” ujar  Putri Koster.

Ia menambahkan, Bali sudah terlalu lama salah dalam mengelola sampah. Selama 41 tahun, pola pikir masih bertumpu pada pembuangan, padahal solusi sebenarnya adalah pengelolaan sejak dari sumber. “Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Masyarakat sudah mulai sadar untuk bebas dari TPA di Bali,” tegasnya.  (Art)